BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pada dasarnya setiap ilmu
pengetahuan memiliki kesulitan tersendiri oleh sebab itu metode dan teknik
sangat diperlukan untuk membantu pendidik memberikan pelajaran agar lebih
menarik dan mempermudah proses pembelajaran. Merupakan satu kesatuan yang akan
mendukung terlaksananya pembelajaran ketika kita menggunakan dua hal tersebut
untuk membantu pendidik memahami karakteristik serta keterampilan siswa serta
peserta didik bukan hanya sebagai objek tetapi juga merupakan subjek dalam
pembelajaran. Peserta didik harus disiapkan sejak awal untuk mampu
bersosialisasi dengan lingkungannya diawali dengan dunia pendidikannya yang
mampu ia pahami dengan baik melalui teknik dan metode pembelajaran yang dapat
digunakan oleh pendidik.
Berdasarkan
pandangan diatas, maka permasalahan yang muncul adalah bagaimana upaya guru
untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan teknik dan metode yang tepat. Salah satu
solusinya yaitu dengan mengembangkan suatu teknik
dan metode pembelajaran yang membuat siswa lebih
senang dan lebih termotivasi untuk belajar.
Dan hal ini semata sebagai daya upaya atau
usaha-usaha yang ditempuh oleh seseorang pendidik dalam rangka untuk mencapai
suatu tujuan pengajaran dengan cara yang paling membantu proses pembelajaran.
B. Rumusan
Masalah
- Bagaimana Metode
Pembelajaran Pendidikan Islam?
- Bagaimana
Teknik Pembelajaran Pendidikan Islam?
C. Tujuan
Mengetahui metode dan teknik
pembelajaran pendidikan islam
BAB
II
PEMBAHASAN
1. Media
Pembelajaran Pendidikan Islam
A.
Pengertian Media
Istilah media
berasal dari bahasa Latin yaitu medius yang berarti tengah,
perantara, atau pengantar. Dalam bahasa Arab, media adalah (وسائل ) perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima
pesan. Sedangkan pengertian lain media adalah alat bantu apa saja yang dapat
dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pembelajaran. Dari
definisi-definisi tersebut dapat dikatakan bahwa media merupakan sesuatu yang
bersifat meyakinkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya.
B. Landasan Penggunaan Media Pembelajaran:
Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan, perubahan-perubahan
sikap dan prilaku dapat terjadi karena interaksi antara pengalaman baru dengan
pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Menurut Bunner (1966) yang dikutib
Azhar Asyad ada tiga tingkatan utama modus belajar antara lain :
a.
Pengalaman langsung (enative), adalah mengerjakan, misalnya
arti kata simpul dipahami langsung dengan membuat simpul,
b.
Pegalaman piktorial/gambar (iconic), adalah pengalaman yang
diperoleh melalui gambar, misalnya kata simpul dipelajari dari gambar, lukisan
foto, atau film meskipun siswa belum pernah mengikat tali untuk membuat simpul
mereka dapat mempelajari dan memahami dari gambar tersebut,
c.
Pengalaman abstrak (symbolic), adalah pembacaan kata simpul
dan mencocokkan dengan simpul pada image mental atau mencocokkannya dengan
pengalamannya membuat simpul.
Ketiga tingkatan pengalaman ini saling berinteraksi dalam upaya
memperoleh pengalaman (pengetahuan, keterampilan dan sikap) yang baru. Agar proses belajar
mengajar dapat berhasil dengan baik, siswa sebaiknya diajak untuk memanfaatkan
semua alat inderanya. Guru berupaya untuk menampilkan rangsangan (stimulus)
yang dapat diproses dengan berbagai indra. Semakin banyak alat indra yang
dugunakan untuk menerima dan mengolah informasi tersebut, maka informasi akan
dapat bertahan dan tesimpan dalam ingatan.
C. Macam-macam
media pembelajaran
Media pembelajaran dibagi menjadi dua,
yaitu media
non eletronik dan elektronik:
a. Media
Nonelektronik
1)
Media Cetak
Media
cetak adalah cara untuk menghasilkan atau mnyampaikan materi, seperti buku dan
materi visual statis terutama melalui proses percetakan mekanis atau fotografis.
Contoh media cetak ini antara lain buku
teks, modul, buku petunjuk, grafik, foto, lembar lepas, lembar kerja, dan
sebagainya. Media ini menghasilakan materi pembelajaran dalam bentuk salinan
tercetak. Dua komponen pokok media ini adalah materi teks verbal dan materi
visual yang dikembangkan berdasarkan teori yang berkaitan
dengan persepsi visual, membaca,
memproses informasi, dan teori belajar.
2)
Media Pajang
Media
pajang umumnya digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi didepan
kelompok kecil. Media ini meliputi papan tulis, white board, papan magnetik,
papan buletin, chart dan pameran. Media pajang paling sederhana dan hampir
selalu tersedia disetiap kelas adalah papan tulis.
3)
Media Peraga dan Eksperimen
Media
peraga dapat berupa alat-alat asli atau tiruan, dan biasanya berada di
laboratorium.Media ini biasanya berbentuk model dan hanya digunakan untuk
menunjukkan bagian-bagian dari alat yang asli dan prinsip kerja dari alat asli
tersebut.
Di samping media peraga terdapat pula
media eksperimen yang berupa alat-alat asli yang biasanya digunakan untuk
kegiatan praktikum.
b. Media
Elektronik
1)
Overhead Projector (OHP)
Media
transparansi atau overhead transparency (OHT) sering kali disebut dengan
nama perangkat kerasnya yaitu OHP (overhead projector). Media
transparansi adalah media visual proyeksi, yang dibuat di atas bahan
transparan, biasanya film acetate atau plastik berukuran 81/2” x 11”,
yang digunakan oleh guru untuk memvisualisasikan konsep, proses, fakta,
statistik, kerangka outline, atau ringkasan di depan kelompok kecil/besar.
2)
Program Slide Instruksional
Slide
merupakan media yang diproyeksikan dapat dilihat dengan mudah oleh para siswa
di kelas. Slide adalah sebuah gambar transparan yang diproyeksikan oleh cahaya
melalui proyektor.
3)
Program Film Strip
Film
strip adalah satu rol positif 35 mm yang berisi sederetan gambar yang saling
berhubungan dengan sekali proyeksi untuk satu gambar.
4)
Film
Film merupakan gambar hidup yang diambil
dengan mengguanakan kamera film dan ditampilkan melalui proyektor film.
Dibandingkan dengan film strip, film bergerk dengan cepat sehingga tampilannya
kontinu. Objek yang ditampilkan akan lebih alamiah, artinya sesuai dengan
kondisi yang sebenarnya. Terlebih lagi film yang diunakan adalah film berwarna.
Pada umumnya film digunakan untuk menyajikan hiburan.Tetapi, dalam
perkembangannya film dapat menyajikan informasi lain, khususnya informasi yang
berkaitan dengan konsep pembelajaran keterampilan dan sikap.22
5)
Video Compact Disk
Untuk menayangkan program VCD instruksional
dibutuhkan beberapa perlengkapan, seperti kabel penghubung video dan audio, remote
control, dan kabel penghubung RF dan TV.
6)
Televisi
Televisi adalah system elektronik yang
mengirimkan gambar diam dan gambar hidup bersama suara melalui kabel atau
ruang. Sistem ini menggunakan peralatan yang mengubah cahaya dan suara kedalam
gelombang elektrik dan mengkonversinya kembali kedalam cahaya yang dapat
dilihat dan suara yang dapat didengar. 23
7)
Internet
Media ini memberikan perubahan yang
besar pada cara orang berinteraksi, bereksperimen, dan berkomunikasi.
Berdasarkan karakteristik tersebu, internet sangat cocok untuk kelas jarak
jauh, dimana siswa dan guru masing-masing berada di tempat berbeda, tetapi
tetap dapat berkomunikasi dan berinteraksi seperti layaknya di kelas.
D. Media
Pendidikan Agama Islam
Para
Nabi menyebarkan agama kepada kaumnya atau kepada umat manusia bertindak
sebagai guru-guru yang mengajarkan dan mencontohkan bagaimana pendidikan
keagamaan yang agung dan benar. Usaha Nabi dalam
menanamkan aqidah agama yang dibawanya
dapat diterima dengan mudah oleh umatnya, dengan menggunakan media yang tepat
yakni melalui media perbuatan Nabi sendiri, dan dengan jalan memberikan contoh
teladan yang baik. Sebagai contoh teladan yang bersifat uswatun hasanah,
Nabi selalu menunujukkan sifat-sifat yang terpuji, hal ini diungkapkan dalam
Al-Qur’an surat al-Ahzab 21:
Artinya: “Sesungguhnya telah
ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kamu (yaitu) orang
yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
mengingat Allah”.
Melalui suri teladan atau model
perbuatan dan tindakan yang baik oleh seorang pendidik, maka guru agama akan
dapat menumbuh-kembangkan sifat dan sikap yang baik pula terhadap anak didik.
Bilamana sebaliknya, apa yang dilihat dan didengar oleh siswa atau anak didik
bertolak belakang dengan kenyataan, maka hasil pendidikan tidak akan tercapai
dengan baik dan dapat melumpuhkan daya didik seorang guru.
Media pendidikan agama adalah
semua aktivitas yang ada hubungannya dengan materi pendidikan agama, baik yang
berupa alat yang dapat diragakan maupun teknik/metode yang secara efektif dapat
digunakan oleh guru agama dalam rangka mencapai tujuan tertentu dan tidak
bertentangan dengan ajaran Islam.
E. Manfaat
Media pembelajaran
Hamalik
(1986) mengemukakan bahwa pemakaian media pengajaran dalam proses belajar
mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan
motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh
psikologis terhadap siswa. Secara
umum, manfaat media dalam proses pembelajaran adalah memperlancar interaksi
antara guru dengan siswa sehingga pembelajaran akan lebih efektif dan efisien.
2. Teknik
Pembelajaran Pendidikan Islam
Realisasi dari metode pendidikan islam
di atas dapat diaplikasikan dengan cara-cara praktis yang disebut dengan teknik
pendidikan islam. Adapun teknik-teknik pendidikan islam adalah:
1) Teknik
periklanan (al-ikhbariyah) dan teknik pertemuan (al-muhadharah)
teknik yang dilakukan dengan cara
memasang iklan, pemberitahuan, pengumuman, brosur-brosur, berita-berita, baik
melalui televisi, radio maupun surat kabar, jurnal, atau majala. Teknik inipun
dapat dilakukan dengan tatap muka langsung antara peserta didik dengan
pendidik. Untuk merealisasikan teknik ini dapat digunakan dengan model-model
sebagai berikut:
A. Teknik
ceramah (lecturing/al-mawidhah)
Muhammad Rasyid Ridla memberi arti
al-mawidhah dengan memberi nasihat dan peringatan yang baik dan benar, yang
dapat menyentuh hati sanubari, agar peserta didik terdorong untuk beraktivitas
baik. Sebaliknya, mushtafa al-maraghi ,e,nerolam arto al-mawidhah tidak hanya
sebatas pada nasihat, karena nasihat merupakan perintah yang diberikan secara
tiba-tiba tanpa adanya tanggung jawab secara kontinu, tapi al-mawidhah adalah
perintah yang disampaikan secara bertahap, terencana, dan bertanggung jawab
sampai perintah tersebut terlaksana. Lecturing ini juga mempunyai kriteria umum
yang berisikan penjelasan dan informasi yang benar dan mengandung nilai-nilai
kemaslahatan, menghendaki adanya aktivitas yang baik untuk mengabdikan diri
kepada Allah SWT. Yang dilakukan secara kontinu (istiqomah) dan penuh tanggung
jawab.
Implikasi teknik mawidhah dalam
pendidikan islam adalah pemberian dan penyamapaian informasi yang dapat memberikan
pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk mengerjakan sesuatu kebaikan agar
tercapainya kemaslahatan umat dalam rangka mengabdi kepada Allah SWT. Dengan
kata lain, teknik yang dilakukan dengan cara penerangan dan penuturan lisan
oleh seorang pendidik terhadap peserta didiknya didalam kelas. Penyajian teknik
cerama bisa menggunakan alat bantu seperti papan tulis, gambar, sketsa, slide,
peta, komputer, LCD, dan sebagainya.
Teknik ceramah merupakan teknik yang
paling banyak dipakai oleh pendidik. Hal ini karena teknik ceramah mudah
dilakukan tanpa banyak membutuhkan biaya dan dapat menghasilkan sejumlah materi
pelajaran dengan pesperta didik yang banyak pula, dapat mengulangi pelajaran
bila diperlukan. Walaupun demikian, teknik ini juga mempunyai kelemahan, yaitu
peserta didik menjadi pasif karena komunikasi interaksi dant transaksi tidak
terjadi, kadang-kadang pendidik tidak mengetahui kemampuan tiap-tiap peserta
didik sehingga bisa jadi yang pandai bertambah pandai dan yang lemah merasa
lebih lemah lagi. Teknik ceramah, disamping membosankan, terutama bagi peserta
didik yang mempunyai kemampuan lebih, kadang kala mejadikan peserta didik
merasa benci kepada pendidik yang kurang lihai berbahasa dengan baik.
Untuk kelancaran ceramah, maka Nabi Musa
AS. Berdoa agar lancara berbahasa dan ceramah, karena lidahnya kaku atau cadel
akibat memakan api diwaktu kecil dihadapan Fir’aun. Tujuan berdoa ini agar
pendengarnya atau mustami mampu memahammi apa yang dikatakan. Doa itu
sebagaimana pada firman Allah SWT:
“Ya
Tuhan-ku, lapangkanlah urusanku, mudahkanlah urusanku, serta permudahlah
(lepaskan kekakuan) lidahku supaya mereka mengerti perkataanku”. (QS.
Thaha:25-28).
B. Teknik
tulisan (Al-kitabah)
Teknik yang dilakukan dengan cara
menyebarkan informasi kepada peserta didik melalui resume tulisan, diktat, buku
modul, buku literatur, serta brosur-brosur. Teknik ini bisa digunakan sebagai
buku literatur, serta brosur-brosur. Teknik ini bisa digunakan sebagai ganti
dari tatap muka bila pendidik berhalangan, disamping untuk melengkapi ceramah
pendidik yang disampaikan kepada peserta didik secara garis besarnya. Teknik
tulisan pernah dilakukan oleh Nabi Sulamiman dalam memberikan mawidhah kepada
Ratu Bilqis di negara Saba’ yang diawali dengan basmalah (QS. Al-Naml:28). Teknik
tulisan punya kelebihan, yaitu bisa bertahan lebih abadi serta dapat dibaca
berulang-ulang bila diperlukan, sehingga isinya dapat dipahami lebih mendalam,
serta dapat dibaca sewaktu-waktu, sesuai dengan tempat dan kesempatan yang
tersedia. Kelemahannya adalah banyak juga orang yang tidak senang membaca,
tetapi lebih senang mendengar.
2) Teknik
Dialog (Hiwar)
Teknik yang dilakukan dengan penyajian
suatu topik masalah yang dilakukan melaui dialog antara pendidik dan peserta
didik. Teknik dialog dapat berfungsi baik jika terjadi komunikasi yang
didiukung oleh minat tinggi pendidik dan peserta didik untuk mengetahui jawaban
dari masalah yang hadapi.
Teknik
dialog mempunyai kelebihan yaitu 1. Setiap pihak memahami permaslahan yang
dihadapi, melalui upaya perenungan dan menghadirkan jawaban 2. Dapat menghayati
hakikat topik yang dipermasalahkan 3. Secara otomatis bisa mengarahkan tingkah
laku subjek dan objek sesuai dengan tuntutan norma yang ada 4. Adanya rasa
bangga karena ikut terlibat langsung dalam pembicaraan.
Prinsip yang harus dipatuhi bagi
pendidik dan peserta didik dalam menggunakan teknik dialog adalah: 1. Tidak
memihak salah satu individu atau kelompok, apalagi memikhak pada individu atau
kelompok yang berpendapat tidak benar, sebab hakikat teknik ini digunakan hanya
untuk mencari kebenaran, 2. Teknikk yang dikemukakan harus disertai argumen
yang kuat, sehingga dapat diakui kebenarannya tanpa harus diragukan, 3. Adanya
komunikasi dan masing-masing pihak berfungsi menajamkan persoalan yang dihadapi
sehingga menemukan suatu kebenaran.
Cara
merealisasikan teknik dialog, sebagai berikut:
A. Teknik
tanya jawab (al-as’olah wa ajwibah)
Teknik ini dilakukan dengan mengajukan
berbagai pertanyaan yang dapat membimbing orang yang ditanya untuk mengemukakan
kebenaran dan hakikat sesungguhnya. Pelaku dari teknik dapat dilakukan oleh
pendidik dan juga oleh peserta didik. Dalam Al-Qur’an banyak kita temukan
teknik tanya jawab, seperti pertanyaan Allah kepada para roh: “bukankah aku ini
Tuhanmu?”, mereka menjawab sama, “Tentu, Engkau Tuhanku”. (QS. Al-A’raf:172).
Segi positif teknik ini adalah situasi
kelas lebih hidup, dapat melatih keberanian peserta didik untuk mengemukakan
pendapatnya, dan menimulkan perbedaan pendapat dalam kelas yang menjadikan
diskusi lebih hidup. Disamping itu, teknik ini dapat membangkitkan kreativitas
dan minat peserta didik agar lebih aktif dan bersungguh-sungguh mengikuti
pelajaran. Pendidik dapat mendeteksi pemahaman peserta didiknya. Segi
negatifnya adalah teknik ini membutuhkan banyak waktu, khususnya bila terjadi
perbedaan yang sulit diselesaikan dan kemungkinan terjadi penyimpangan atas
topik yang diberikan serta kurang tepat dalam mencari kesimpulan atau inti
pelajaran.
Teknik ini berfungsi dengan baik jika
pada tahap awalnya terdapat rumusan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
Pertanyaan yang diajukan dapat membangkitkan minat dan mendorong siswa untuk
aktif, sehingga terjadi kerja sama antara peserta didik dan mereka dapat
mengasosiasikan pada masalah yang lain. Disamping itu, dalam teknik ini dapat
dilakukan secara adil dalam membagi giliran bertanya. Bentuk pertanyaan yang
dikemukan dapat berupa pemahaman, penerapan, ingatan, analisis, sistematis,
evaluatif, dan sebagainya.
B. Teknik
diskusi
Teknik ini pendidik memberikan
kesempatan pada peserta didiknya untuk mengadakan pembicaraan ilmiah, baik
secara individu maupun kelompok untuk mengumpulkan penapat, membuat kesimpulan
atau menyusun alternatif pemecahan suatu masalah. Masalah yang didiskusikan
dapat berupa pemecahan sosial, pemecahan kasus kehidupan sehari-hari, serta
pemecahan masalah pelajaran, khususnya koreksi pemahaman. Segi positif teknik
ini adalah membantu peserta didik untuk mengambil keputusan yang lebih baik
daripada memutuskan sendiri, tidak terjebak dengan pemikiran yang keliru,
meningkatkan motivasi terhadap peningkatan berpikir keras serta adanya hubungan
akrab.
C. Teknik
bantah-bantahan (Al-Mujadalah)
Sebenarnya teknik ini hampir
sama dengan teknik diskusi, hanya saja
teknik ini di ikuti oleh peerta yang mungkin berbeda ideologi, agama, prinsip,
filsafat hidup atau perbedaan lainnya. Tujuan diterapkan teknik ini untuk
memengaruhi bahkan memaksa peserta agar mengikuti keinginannya, sehingga sifat
teknik ini terkesan saling menjatuhkan dan mengalahkan lawan serta ingin mempertahankan
perndapat pribadi. Teknik ini berdasarkan firman
Allah: “serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, dan pelajaran yang
baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik”. (QS. An-Nahl:125).
Menurut Al-Nahlawi, teknik jidal ini
mempunyai kelebihan sebagai berikut:
a.
Mendidik peserta didik untuk bersemangat
mencari kebenaran dan mengemukakan kebenaran dengan argumen yang kuat dan
rasional, sehingga teknik ini mampu mengembangkan potensi.
b.
Menghindarkan peserta didik dari
pemikiran yang ilhad atau ateis dan syirik serta menanamkan sifat kebencian
terhadap kebatilan.
c.
Mendidik peserta didik menggunakan
pikiran yang sehat yang dapat memperoleh hakikat kebenaran.
D. Teknik
Brainstorming (Sumbang Saran)
Teknik yang dilakukan dengan
cara mengajar yang mana seorang pendidik melontarkan sejumlah pertanyaan dan
masalah untuk kemudian peserta didik dituntut untuk menjawab dan menyataan
pendapat atau berkomentar, sehingga memungkinkan masalah tersebut berkembang
menjadi masalah baru. Disamping itu, dapat
pula diartikan sebagai cara mendaapatkan ide dan gagasan dari sekelompok
peserta dalam waktu yang singkat. Tujuan teknik ini adalah menguras habis
pengetahuan yang diketahui peseta dalam menanggapi masalah yang diajukan.
Teknik brainstorming mempunyai
banyak keungguan. Yaitu peserta didik dapat berpikir aktif dan dapat menyatakn
pendapatnya dengan cepat serta logis, adanya kebebasan berpendapat secara
mutlak dan terciptanya suasana demokrasi. Selain itu, teknik ini dapat
menyebabkan persaingan yang ketat yang merangsang peserta didik untuk selalu
berpendapat, sehingga peserta didik yang lemah dapat pula terdorong untuk
berpartisipasi dalam menanggapi masalah tersebut. Namun, kelemahan teknik ini
adalah pendidik kurang memberi waktu untuk peserta didik berpikir sehingga
kadang-kadang pembicaraan didominasi peserta didik yang pandai saja. Selain
itu, pendidik yang menampung ide tidak dapat menyimpulkan masalah dan peserta
didik segera mengetahui pendapat mereka benar atau salah. Teknik ini tidak
menjami adanya penyelasaian masalah yang diajukan. Dalam brainstoming dalam
pendidikan islam sangat tepat digunakan untuk pengajaran materi perbadningan
mazhab, sehingga peserta didik terhindari dari fanatisme terhadap mazhab tetapi
juga tidak membencinya.
3) Teknik
bercerita
Teknik yang dilakukan dengan
bercerita, mengungkapkan peristiwa-peristiwa bersejarah yang mengandur ibrah
bagi seluruh umat manusia disegala tempat dan zaman, baik mengenai kisah yang
bersifat kebaikan yang berakibat pada baik maupun kisah kezaliman yang bersifat
buruk dimasalalu. Teknik ini sangat efektif sekali,
terutama untuk materi sejarah dan kebudayaan islam. Dan terlebih lagi
sasarannya untuk peserta didik yang masih dalam perkembangan fantasi. Dengan
mendengarkan suatu kisah, kepekaan jiwa dan perasaan peserta didik dapat
tergugah, meniru figur yang baik yang berguna bagi perkembangan hidupnya, dan
membenci terhadap tokoh antagonis atau zalim. Jadi, dengna memberikan stimulasi
kepada peserta didik dengan cerita itu, secara otomatis mendorong peserta didik
untuk berbuat kebajikan dan dapat membentuk akhlak mulia, serta dapat membina
rohani. Bentuk-bentuk teknik ini dapat
berupa legenda dan dongeng seperti cerita kezaliman fir’aun, roman nocel cerita
pendek, cerita bergambar, puisi dan lain-lain.
4) Teknik
Metafora (Al-Amtsal)
Al amtsal adalah perumpamaan baik berupa
ungkapan, gerak, maupun melalui gambar-gambar. Dalam konteks pendidikan islam,
teknik metafora lebih mengarah kepada perumpamaan dalam segi ungkapan belaka.
Teknik metafora mempunyai kelebihan karena dapat memberi pemahaman konsep
abstrak bagi peserta didik, serta dapat memberi kesan dan bekas yang mendalam
terhadap perumpamaan yang diberikan membawa pemahaman rasional yang mudah
dipahami, dan menumbuhkan daya motivasi untuk meningkatkan imajinasi yang baik
dan meninggalkan imajinasi yang tercela. Teknik metafora dapat direalisasikan
melalui bentuk-bentuk sebagai berikut:
A.
Simbolisme Verbal
Teknik yang dilakukan dengan cara
meggunakan bahasa-bahasa simbol yang dapat menarik minat pendengar. Pada
dasarnya, bahasa simbol memiliki nilai-nilai sejarah yang tinggi, karena
diformat dalam bahasa seni, sehingga sejarah tersebut disuguhkan dalam bahasa
yang sesederhana mungkin. Suatu kisah mempunyai arti metafora, yakni kisah
cinta anak adam (Qabil dan Habil) yang sedang merebutkan pasangan hidupnya.
Untuk penentuan pasangan itu, mereka berdua berkorban. Kurban Qabul dalam
bentuk hasil pertanian ditolak dan kurban Habil dengan menyembelih hewan
diterima. Qabil kecewa dengan pasangannya lalu ia membunuh adik kandungnnya. Ia
bingung bagaimana cara menguburnya, lalu turunlah seekor burung gagak memberi
metafora pada qabil bagaimana cara mengubur adiknya. (QA. Al-Maidah:27-32).
Bentuk teknik simbolisme verbal dapat berupa puisi, prosa, pantun, syair,
fabel, cerpen, karikatur, dan sebagainya.
Al-Qur’an sesungguhnya kitab suci yang
kaya akan simbol-simbol dan perlu interpretasi. Hal ini karena isinya dapat
dimengerti oleh semua lapisan manusia walaupun hasil pengertian dan pemahaman
itu berbeda-beda. Semakin tinggi tingkat pengetahuan dan tajam penalaran dan
perasaannya, semakin banyak pula ia memperoleh rahasia-rahasia yang terkandung
dalam simbol-simbol tersebut. Bahasa Al-Qur’an, tidaklah sulit sebab kalau
sulit maka orang awam tidak mampu memahaminya. Namun demikian, bahasa Al-Qur’an
tidaklah mudah, sebab jika mudah akan membosankan bagi kaum intelektual dan
cendekiawan. Karena itu, bahasa Al-Qur’an merupakan bahasa simbol.
B.
Teknik karyawisata (Al-Rihlah Al-Imiyah)
Teknik yang dilakukan dengan cara
penyajian suatu bahan pelajaran dengan membawa peserta didik pada objek yang
akan dipelajari secara diluar kelas. Sebagai contoh, jika pendidik menerangkan
materi sejarah kebudayaan islam di inodnesia, sebaiknya peserta diidk diajak
kemakam sunan ampel, sunan muria, dan tempat bersejarah lainnya. Dengan
demikian peserta didik memiliki deskriptif secara langsung tentang materi
pelajaran yang diberikan. Teknik karyawisata perna diterapkan Nabi Khidir
kepada Nabi Musa. Dalam teknik ini, Nabi Khidir membawa Nabi Musa pada objek
secara langsung, dan sambil lalu Nabi Khidir memberik pelajaran pada Nabi Musa
mengenai pembunuhan anak kecil yang tak berdosa, melubangi perahu dan membangun
rumah anak yatim disuatu daerah yang zalim (Al-Kahfi:62-82). Demikian pula halnya
dengan Nabi Muhammad SAW. Yang pernah melakukan teknik karyawisata bersama
Malaikat Jibril sewaktu Isra’ dan Mi’raj. Dalam perjalanannya beliau
diperlihatkan surga dan neraka beserta penghuninya, bau makam mashithah, tukang
sisir anak Fir’aun, orang yang memilih daging busuk daripada daging segar,
orang yang memeilih air susu daripada minuman keras, dan orang yang mengtam
padi yang tak kunjung habis panennya. Dengan objek spiritual itu, malaikat
jiblil memberikan amakna-makna yang tersurat dan tersirat atas peristiwa yang
dilihat oleh Rasulullah SAW.
5. Teknik
Imitasi
Teknik
yang dilakukan dengan cara menampilkan seperangkat teladan bagi peserta didik
melalui komunikasi transaksi didalam kelas maupun luar kelas. Teknik imitasi
dilakukan karena ajaran islam tidak sekedar ditransformasikan pada peserta
didik tapi juga diinternalisasikan dalam kehidupan nyata, sehingga tuntutan
pendidik tidak hanya berceramah atau berdiskusi tetapi lebih penting lagi,
mengamalkan semua ajaran yang telah dimengerti sehingga peserta didik dapat
meniru dan mencontohnya. Seorang pendidik yang baik adalah dapat meneruskan
misi kerasulan Nabi Muhammad SAW, melalui perilakunya yang penuh kesederhanaan,
kreativitas, dan produktivitas. Rasulullah adalah teladan yang patut dicontoh
karena peribadi Qur’aninya. Untuk merealisasikan teknik imitasi dapat digunakan
bentuk-bentuk teknik sebagai berikut:
A. Teknik
Uswatun Hasanah
Teknik
uswatun hasanah merupakan teknik yang diberikan dengan cara contoh teladan yang
baik, yang tidak hanya memberi didalam kelas tetapi juga contoh dalam kehidupan
sehari-hari. Dengan begitu peserta didik tidak segan-segan meniru dan
mencontohnya, seperti shalat berjamaah, kerjja sosial, partisipasi kegiatan
masyarakat dan lain-lain.
B. Teknik
Demonstrasi dan Dramatisasi
Teknik
yang digunakan dengan cara kegiatan-kegiatan eksperimen sehingga membentuk
kerangka verbal yang dibarengi dengan kerja fisik atau pengoperasian peralatan,
barang atau benda. Teknik ini biasanya dilakukan oleh pendidik itu sendiri,
sedangkan teknik dramatisasi diperankan oleh peserta didik. Teknik mempunyai
kelebihan khusus, yaitu adanya kreativitas peserta didik yang semakin
meningkat, memperbanyak pengalaman disamping pengetahuan, pelajarannya bertahan
lama karena selalu diminati, siswa cepat menangkap pengertian karena
perhatiannya terfokus pada pelajaran, serta mengurangi kesalahpahaman.
C. Teknik
Permainan dan Simulasi
Teknik
yang dilakukan dengan cara pengajaran dalam situasi yang sesungguhnya.
Bagian-bagian penting diduplikasikan dalam bentuk permainan, sehingga peserta
didik bertindak langsung memainkan peranannya. Tujuan teknik ini adalah melatih
keterampilan yang bersifat profesional, memperoleh pemahaman tentang suatu
konsep dan prinsip, melatih memecahkan masalah, memberi motivasi kerja, serta
menimbulkan kesadaran diri, rasa simpati, perubahan sikap dan kepekaan.
6. Teknik
Mumarasah al-Amal
Teknik
ini dilakukan dengan cara memberikan pekerjaan pada peserta didik secara terus
menerus agar peserta didik terbiasa. Dengan tidak sadar, peserta didik terbiasa
melakukan hal-hal baik serta memiliki kreativitas dan produktivitas yang
profesional dan terampil dalam mengerjakan sesuatu. Bentuk-bentuk Dril dapat
direalisasikan dalam teknik:
A. Teknik
Kerja kelompok
Teknik ini dilakukan dengan
cara mengejar pada sekelompok peserta didik untuk bekerja sama dan memecahkan
masalah dengan cara mengerjakan tugas yang diberikan padanya guna mencapai
tujuan yang diinginkan. Kelebihan teknik ini
adalah mampu memberi kesempatan peserta didik untuk menunjukkan keterampilan.
Sedangkan kelemahannya adalah kurang adanya keseragaman kemampuan peserta
didik, sehingga peserta didik yang mampu saja yang aktif.
B. Teknik
penemuan
Teknik ini dilakukan dengan cara
mengajar peserta didik dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat,
membaca dan dapat belajar sendiri. Teknik ini dapat membangkitkan gairah siswa
belajar karena termotivasi dan adanya percaya diri. Kelemahan teknik ini adalah
tak semua peserta didik memiliki kesiapan mental, sehingga ia kurang berani
bertindak.
C. Teknik
Micro Teaching
Teknik ini dilakukan dengan memberi
kegiatan mengajar pada peserta didik, yang segalanya dikecilkan dan
disederhanakan. Kegunannya yaitu mempersiapkan diri peserta didik sebagai calon
guru untuk menghadapi pekerjaan mengajar sepenuhnnya dimuka kelas dengan
memperoleh pengetahun, kecakapan dan sikap sebagai guru professional.
D. Teknik
Modul Belajar
Teknik modul belajar dilakukan melalui
paket belajar yang disiapkan oleh pendidik berdasarkan kemampuan siswanya.
Keuntungan teknik ini adalah ini adalah secara individual disenangi oleh siswa
sebab tidak ada kata gagal yang ada belum mencapai tujuan. Namun teknik ini
juga mempunyai kelemahan yaitu teknik ini dapat menyita banyak waktu, dan harus
mengadakan modifikasi paket tiap tahun.
E. Teknik
Belajar Mandiri
Teknik yang dilakukan dengan menyuruh
peserta didik belajar sendiri baik dikelas maupun diluar kelas. Keuntungan
teknik ini adalah dapat diikuti dan dilakukan sesuai kemampuan peserta didik
masing-masing. Sedang kelemahannya ialah hubungan sosial murid menjadi
menyempit.
7. Teknik
Pengambil Pelajaran dari Suatu Peristiwa (Ibrah)
Aplikasi teknik ibrah dalam pendidik
islam adalah dengan mengajar peserta didik melalui pengamatan, perbandingan dan
penganalogian serta pengambilan keputusan. Hal ini akan menjadikan siswa
mempunyai pengetahuan dan membentuk sikap kepribadian yang terampil dan
professional. Untuk merealisasikan teknik ibrah ini dapat menggunakan teknik
sebagai berikut:
A.
Eksperimen
Teknik yang menggunakan
cara mengajar dengan memberi tugas melakukan percobaan tentang sesuatu mulai
dari pengamatan, penulisan, sampai kesimpulan. Teknik ini efektif untuk
menyelesaikan skripsi tesis ataupun disertasi bagi peserta didik.
B.
Teknik Penyakian Kerja Lapangan
Teknik yang
dikerjakan dengan cara keterlibatan peserta didik kelapangan kerja di luar
sekolah, sehingga peserta didik bukan hanya peninjauan saja tetapi jua ikut
langsun turun kelapangan kerja.
C.
Teknik Penyajian Secara Kasus
Teknik ini dilakukan
melalui penyajian suatu kasus yang dialmi peserta didik sendiri atau orang
lain. Kasus yang terjadi pada siapa saja dapat dimanfaatkan untuk penyajian
teknik ini untuk dipecahkan sehingga peserta didik akan terbiasa menghadapi
problema yang ada.
D.
Teknik Penyajian Non-Directive
Teknik yang dilakukan
dengan cara mengajar peserta didik melalui keterlibatan dan kebiasaannya dalam
melakukan observasi, menganalisis data yang diperoleh serta membuat kesimpulan
sendiri.
8. Teknik
Pemberi Janji dan Ancaman (Targhib Wa Tarhib)
Targhib
adalah harapan dan janji yang diberikan kepada peserta didik dengan bersifat
menyenangkan sebab hasilnya adalah sebuah penghargaan. Sebaliknya tarhib adalah
ancaman pada peserta didik bila ia melakukan suatu tindakan yang menyalahi
aturan. Ada beberapa teknik yang mampu merealisasikan teknik ini, yaitu:
A.
Teknik Pemberian Bimbingan dan Ampunan
Teknik ini dilakukan
dengan cara membimbing anak yang telah melakukan kesalah dengan menjanjikan
adanya ampunan. Teknik ini diperuntukan bagi siswa bermasalah. Selanjutnya
pendidik memberi bimbingan agar siswa dapat memecahkn problemanya sendiri.
B.
Pemberian Motivasi dan Peringatan
(Al-Tasywiq dan Al-Tadzkir)
Teknik ini dilakukan
dengan memberi motivasi tinggi pada peserta didik sehingga ia merasa senang dan
bangga melakukan perintah. Disamping itu, teknik ini memberikan gambaran
tentang perbuatan jahat sehingga peserta didik mampu menghindarkan diri dari
hal tersebut.
C.
Teknik Anugerah dan Hukuman (Tsawab dan
Iqab)
Teknik yang
dilakukan dengan memberi anugerah kepada siswa berprestasi dan hukuman bagi
siswa pelanggar. Hukuman tersebut dapat diterapkan bilamana anak sudah beranjak
usia 10 tahun, sehingga tidak membahayakan saraf otak peserta didik.
9. Teknik
Koreksi dan Kritik
Teknik ini dilakukan dengan
cara pembahasan dan penyelididikan terhadap suatu topik materi dalam suatu
buku, atau pendapat seorang guru, yang diberikan pada peserta didik atau
kemudian dikritisi kelemahan-kelemahannya dan dapat dibandingkan dengan
pendapat atau buku lain. Dengan demikian peserta
didik dapat mengetahui pendapat yang masih relevan dan mengandung nilai
kebenaran.
10. Teknik
perlombaan
Teknik yang dilakukan dengan cara
memberi pelajaran kepada peserta didik melalui upaya yang bersifat kompeitisi
antara peserta didik. Bentuk teknik ini dapat berupa olah pikir. Teknik ini
efektif karena dapat menguras seluruh kemampuan peserta didik dalam waktu
sesingkat mungkin dan peserta didik akan terbiasa merefleksiakn kemampuannya
tanpa berfikir lama. Akan tetapi keleamahannya adalah menjadikan minder bagi
peseta didik yang sama sekali tidak mempunyai kemampuan spesial dan perhatian
didominasi oleh peserta didik tertentu.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan
pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa teknik dan metode merupakan suatu
alat yang digunakan oleh guru untuk menyampaikan bahan-bahan pengajaran yang
telah dipilih untuk peserta didik. Teknik dan metodeyang dipilih haruslah
sesuai dengan pelajaran yang digunakan dan seirama dengan pendekatan yang
digunakan. Sehingga dari beragamnya teknik dan metode yang ada
pada pembelajaran pendidikan islam maka mampu membuat siswa menjadi lebih
senang dan bersemangat dalam proses belajar. Serta pendidikpun harus mampu
menguasai teknik dan metode tersebut sebagai caranya menyampaikan suatu
pelajaran. Teknik dan metodepun digunakan sesuai pada kebutuhan pembelajaran
masing-masing.