Pages

Wednesday, November 13, 2019

Makalah Metode Pembelajaran Pendidikan Islam


BAB I
PENDAHULUAN
A.        Latar Belakang
Pada dasarnya setiap ilmu pengetahuan memiliki kesulitan tersendiri oleh sebab itu metode dan teknik sangat diperlukan untuk membantu pendidik memberikan pelajaran agar lebih menarik dan mempermudah proses pembelajaran. Merupakan satu kesatuan yang akan mendukung terlaksananya pembelajaran ketika kita menggunakan dua hal tersebut untuk membantu pendidik memahami karakteristik serta keterampilan siswa serta peserta didik bukan hanya sebagai objek tetapi juga merupakan subjek dalam pembelajaran. Peserta didik harus disiapkan sejak awal untuk mampu bersosialisasi dengan lingkungannya diawali dengan dunia pendidikannya yang mampu ia pahami dengan baik melalui teknik dan metode pembelajaran yang dapat digunakan oleh pendidik.
            Berdasarkan pandangan diatas, maka permasalahan yang muncul adalah bagaimana upaya guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan teknik dan metode yang tepat. Salah satu solusinya yaitu dengan mengembangkan suatu teknik dan metode pembelajaran yang membuat siswa lebih senang dan lebih termotivasi untuk belajar. Dan hal ini semata sebagai daya upaya atau usaha-usaha yang ditempuh oleh seseorang pendidik dalam rangka untuk mencapai suatu tujuan pengajaran dengan cara yang paling membantu proses pembelajaran.


B.     Rumusan Masalah
  1. Bagaimana Metode Pembelajaran Pendidikan Islam?
  2. Bagaimana Teknik Pembelajaran Pendidikan Islam?


C. Tujuan
Mengetahui metode dan teknik pembelajaran pendidikan islam


BAB II
PEMBAHASAN
1.      Media Pembelajaran Pendidikan Islam
A.    Pengertian Media
Istilah media berasal dari bahasa Latin yaitu medius yang berarti tengah, perantara, atau pengantar. Dalam bahasa Arab, media adalah (وسائل ) perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Sedangkan pengertian lain media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pembelajaran. Dari definisi-definisi tersebut dapat dikatakan bahwa media merupakan sesuatu yang bersifat meyakinkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya.
B.     Landasan Penggunaan Media Pembelajaran:
Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan, perubahan-perubahan sikap dan prilaku dapat terjadi karena interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Menurut Bunner (1966) yang dikutib Azhar Asyad ada tiga tingkatan utama modus belajar antara lain :
a.       Pengalaman langsung (enative), adalah mengerjakan, misalnya arti kata simpul dipahami langsung dengan membuat simpul,
b.      Pegalaman piktorial/gambar (iconic), adalah pengalaman yang diperoleh melalui gambar, misalnya kata simpul dipelajari dari gambar, lukisan foto, atau film meskipun siswa belum pernah mengikat tali untuk membuat simpul mereka dapat mempelajari dan memahami dari gambar tersebut,
c.       Pengalaman abstrak (symbolic), adalah pembacaan kata simpul dan mencocokkan dengan simpul pada image mental atau mencocokkannya dengan pengalamannya membuat simpul.
Ketiga tingkatan pengalaman ini saling berinteraksi dalam upaya memperoleh pengalaman (pengetahuan, keterampilan dan sikap) yang baru. Agar proses belajar mengajar dapat berhasil dengan baik, siswa sebaiknya diajak untuk memanfaatkan semua alat inderanya. Guru berupaya untuk menampilkan rangsangan (stimulus) yang dapat diproses dengan berbagai indra. Semakin banyak alat indra yang dugunakan untuk menerima dan mengolah informasi tersebut, maka informasi akan dapat bertahan dan tesimpan dalam ingatan.
C.     Macam-macam media pembelajaran
Media pembelajaran dibagi menjadi dua, yaitu   media non eletronik dan elektronik:

a.       Media Nonelektronik
1)      Media Cetak
Media cetak adalah cara untuk menghasilkan atau mnyampaikan materi, seperti buku dan materi visual statis terutama melalui proses percetakan mekanis atau fotografis.
Contoh media cetak ini antara lain buku teks, modul, buku petunjuk, grafik, foto, lembar lepas, lembar kerja, dan sebagainya. Media ini menghasilakan materi pembelajaran dalam bentuk salinan tercetak. Dua komponen pokok media ini adalah materi teks verbal dan materi visual yang dikembangkan berdasarkan teori yang berkaitan
dengan persepsi visual, membaca, memproses informasi, dan teori belajar.
2)      Media Pajang
Media pajang umumnya digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi didepan kelompok kecil. Media ini meliputi papan tulis, white board, papan magnetik, papan buletin, chart dan pameran. Media pajang paling sederhana dan hampir selalu tersedia disetiap kelas adalah papan tulis.
3)      Media Peraga dan Eksperimen
Media peraga dapat berupa alat-alat asli atau tiruan, dan biasanya berada di laboratorium.Media ini biasanya berbentuk model dan hanya digunakan untuk menunjukkan bagian-bagian dari alat yang asli dan prinsip kerja dari alat asli tersebut.
Di samping media peraga terdapat pula media eksperimen yang berupa alat-alat asli yang biasanya digunakan untuk kegiatan praktikum.

b.      Media Elektronik
1)      Overhead Projector (OHP)
Media transparansi atau overhead transparency (OHT) sering kali disebut dengan nama perangkat kerasnya yaitu OHP (overhead projector). Media transparansi adalah media visual proyeksi, yang dibuat di atas bahan transparan, biasanya film acetate atau plastik berukuran 81/2” x 11”, yang digunakan oleh guru untuk memvisualisasikan konsep, proses, fakta, statistik, kerangka outline, atau ringkasan di depan kelompok kecil/besar.
2)      Program Slide Instruksional
Slide merupakan media yang diproyeksikan dapat dilihat dengan mudah oleh para siswa di kelas. Slide adalah sebuah gambar transparan yang diproyeksikan oleh cahaya melalui proyektor.
3)      Program Film Strip
Film strip adalah satu rol positif 35 mm yang berisi sederetan gambar yang saling berhubungan dengan sekali proyeksi untuk satu gambar.
4)      Film
Film merupakan gambar hidup yang diambil dengan mengguanakan kamera film dan ditampilkan melalui proyektor film. Dibandingkan dengan film strip, film bergerk dengan cepat sehingga tampilannya kontinu. Objek yang ditampilkan akan lebih alamiah, artinya sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Terlebih lagi film yang diunakan adalah film berwarna. Pada umumnya film digunakan untuk menyajikan hiburan.Tetapi, dalam perkembangannya film dapat menyajikan informasi lain, khususnya informasi yang berkaitan dengan konsep pembelajaran keterampilan dan sikap.22
5)      Video Compact Disk
Untuk menayangkan program VCD instruksional dibutuhkan beberapa perlengkapan, seperti kabel penghubung video dan audio, remote control, dan kabel penghubung RF dan TV.
6)      Televisi
Televisi adalah system elektronik yang mengirimkan gambar diam dan gambar hidup bersama suara melalui kabel atau ruang. Sistem ini menggunakan peralatan yang mengubah cahaya dan suara kedalam gelombang elektrik dan mengkonversinya kembali kedalam cahaya yang dapat dilihat dan suara yang dapat didengar. 23
7)      Internet
Media ini memberikan perubahan yang besar pada cara orang berinteraksi, bereksperimen, dan berkomunikasi. Berdasarkan karakteristik tersebu, internet sangat cocok untuk kelas jarak jauh, dimana siswa dan guru masing-masing berada di tempat berbeda, tetapi tetap dapat berkomunikasi dan berinteraksi seperti layaknya di kelas.

D.    Media Pendidikan Agama Islam
Para Nabi menyebarkan agama kepada kaumnya atau kepada umat manusia bertindak sebagai guru-guru yang mengajarkan dan mencontohkan bagaimana pendidikan keagamaan yang agung dan benar. Usaha Nabi dalam
menanamkan aqidah agama yang dibawanya dapat diterima dengan mudah oleh umatnya, dengan menggunakan media yang tepat yakni melalui media perbuatan Nabi sendiri, dan dengan jalan memberikan contoh teladan yang baik. Sebagai contoh teladan yang bersifat uswatun hasanah, Nabi selalu menunujukkan sifat-sifat yang terpuji, hal ini diungkapkan dalam Al-Qur’an surat al-Ahzab 21:
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kamu (yaitu) orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah”.
Melalui suri teladan atau model perbuatan dan tindakan yang baik oleh seorang pendidik, maka guru agama akan dapat menumbuh-kembangkan sifat dan sikap yang baik pula terhadap anak didik. Bilamana sebaliknya, apa yang dilihat dan didengar oleh siswa atau anak didik bertolak belakang dengan kenyataan, maka hasil pendidikan tidak akan tercapai dengan baik dan dapat melumpuhkan daya didik seorang guru.
Media pendidikan agama adalah semua aktivitas yang ada hubungannya dengan materi pendidikan agama, baik yang berupa alat yang dapat diragakan maupun teknik/metode yang secara efektif dapat digunakan oleh guru agama dalam rangka mencapai tujuan tertentu dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

E.     Manfaat Media pembelajaran
Hamalik (1986) mengemukakan bahwa pemakaian media pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Secara umum, manfaat media dalam proses pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga pembelajaran akan lebih efektif dan efisien.
2.      Teknik Pembelajaran Pendidikan Islam
Realisasi dari metode pendidikan islam di atas dapat diaplikasikan dengan cara-cara praktis yang disebut dengan teknik pendidikan islam. Adapun teknik-teknik pendidikan islam adalah:


1)      Teknik periklanan (al-ikhbariyah) dan teknik pertemuan (al-muhadharah)
teknik yang dilakukan dengan cara memasang iklan, pemberitahuan, pengumuman, brosur-brosur, berita-berita, baik melalui televisi, radio maupun surat kabar, jurnal, atau majala. Teknik inipun dapat dilakukan dengan tatap muka langsung antara peserta didik dengan pendidik. Untuk merealisasikan teknik ini dapat digunakan dengan model-model sebagai berikut:
A.    Teknik ceramah (lecturing/al-mawidhah)
Muhammad Rasyid Ridla memberi arti al-mawidhah dengan memberi nasihat dan peringatan yang baik dan benar, yang dapat menyentuh hati sanubari, agar peserta didik terdorong untuk beraktivitas baik. Sebaliknya, mushtafa al-maraghi ,e,nerolam arto al-mawidhah tidak hanya sebatas pada nasihat, karena nasihat merupakan perintah yang diberikan secara tiba-tiba tanpa adanya tanggung jawab secara kontinu, tapi al-mawidhah adalah perintah yang disampaikan secara bertahap, terencana, dan bertanggung jawab sampai perintah tersebut terlaksana. Lecturing ini juga mempunyai kriteria umum yang berisikan penjelasan dan informasi yang benar dan mengandung nilai-nilai kemaslahatan, menghendaki adanya aktivitas yang baik untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT. Yang dilakukan secara kontinu (istiqomah) dan penuh tanggung jawab.
Implikasi teknik mawidhah dalam pendidikan islam adalah pemberian dan penyamapaian informasi yang dapat memberikan pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk mengerjakan sesuatu kebaikan agar tercapainya kemaslahatan umat dalam rangka mengabdi kepada Allah SWT. Dengan kata lain, teknik yang dilakukan dengan cara penerangan dan penuturan lisan oleh seorang pendidik terhadap peserta didiknya didalam kelas. Penyajian teknik cerama bisa menggunakan alat bantu seperti papan tulis, gambar, sketsa, slide, peta, komputer, LCD, dan sebagainya.
Teknik ceramah merupakan teknik yang paling banyak dipakai oleh pendidik. Hal ini karena teknik ceramah mudah dilakukan tanpa banyak membutuhkan biaya dan dapat menghasilkan sejumlah materi pelajaran dengan pesperta didik yang banyak pula, dapat mengulangi pelajaran bila diperlukan. Walaupun demikian, teknik ini juga mempunyai kelemahan, yaitu peserta didik menjadi pasif karena komunikasi interaksi dant transaksi tidak terjadi, kadang-kadang pendidik tidak mengetahui kemampuan tiap-tiap peserta didik sehingga bisa jadi yang pandai bertambah pandai dan yang lemah merasa lebih lemah lagi. Teknik ceramah, disamping membosankan, terutama bagi peserta didik yang mempunyai kemampuan lebih, kadang kala mejadikan peserta didik merasa benci kepada pendidik yang kurang lihai berbahasa dengan baik.
Untuk kelancaran ceramah, maka Nabi Musa AS. Berdoa agar lancara berbahasa dan ceramah, karena lidahnya kaku atau cadel akibat memakan api diwaktu kecil dihadapan Fir’aun. Tujuan berdoa ini agar pendengarnya atau mustami mampu memahammi apa yang dikatakan. Doa itu sebagaimana pada firman Allah SWT:
“Ya Tuhan-ku, lapangkanlah urusanku, mudahkanlah urusanku, serta permudahlah (lepaskan kekakuan) lidahku supaya mereka mengerti perkataanku”. (QS. Thaha:25-28).
B.     Teknik tulisan (Al-kitabah)
Teknik yang dilakukan dengan cara menyebarkan informasi kepada peserta didik melalui resume tulisan, diktat, buku modul, buku literatur, serta brosur-brosur. Teknik ini bisa digunakan sebagai buku literatur, serta brosur-brosur. Teknik ini bisa digunakan sebagai ganti dari tatap muka bila pendidik berhalangan, disamping untuk melengkapi ceramah pendidik yang disampaikan kepada peserta didik secara garis besarnya. Teknik tulisan pernah dilakukan oleh Nabi Sulamiman dalam memberikan mawidhah kepada Ratu Bilqis di negara Saba’ yang diawali dengan basmalah (QS. Al-Naml:28). Teknik tulisan punya kelebihan, yaitu bisa bertahan lebih abadi serta dapat dibaca berulang-ulang bila diperlukan, sehingga isinya dapat dipahami lebih mendalam, serta dapat dibaca sewaktu-waktu, sesuai dengan tempat dan kesempatan yang tersedia. Kelemahannya adalah banyak juga orang yang tidak senang membaca, tetapi lebih senang mendengar.
2)      Teknik Dialog (Hiwar)
Teknik yang dilakukan dengan penyajian suatu topik masalah yang dilakukan melaui dialog antara pendidik dan peserta didik. Teknik dialog dapat berfungsi baik jika terjadi komunikasi yang didiukung oleh minat tinggi pendidik dan peserta didik untuk mengetahui jawaban dari masalah yang hadapi.
Teknik dialog mempunyai kelebihan yaitu 1. Setiap pihak memahami permaslahan yang dihadapi, melalui upaya perenungan dan menghadirkan jawaban 2. Dapat menghayati hakikat topik yang dipermasalahkan 3. Secara otomatis bisa mengarahkan tingkah laku subjek dan objek sesuai dengan tuntutan norma yang ada 4. Adanya rasa bangga karena ikut terlibat langsung dalam pembicaraan.
Prinsip yang harus dipatuhi bagi pendidik dan peserta didik dalam menggunakan teknik dialog adalah: 1. Tidak memihak salah satu individu atau kelompok, apalagi memikhak pada individu atau kelompok yang berpendapat tidak benar, sebab hakikat teknik ini digunakan hanya untuk mencari kebenaran, 2. Teknikk yang dikemukakan harus disertai argumen yang kuat, sehingga dapat diakui kebenarannya tanpa harus diragukan, 3. Adanya komunikasi dan masing-masing pihak berfungsi menajamkan persoalan yang dihadapi sehingga menemukan suatu kebenaran.
Cara merealisasikan teknik dialog, sebagai berikut:
A.    Teknik tanya jawab (al-as’olah wa ajwibah)
Teknik ini dilakukan dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat membimbing orang yang ditanya untuk mengemukakan kebenaran dan hakikat sesungguhnya. Pelaku dari teknik dapat dilakukan oleh pendidik dan juga oleh peserta didik. Dalam Al-Qur’an banyak kita temukan teknik tanya jawab, seperti pertanyaan Allah kepada para roh: “bukankah aku ini Tuhanmu?”, mereka menjawab sama, “Tentu, Engkau Tuhanku”. (QS. Al-A’raf:172).
Segi positif teknik ini adalah situasi kelas lebih hidup, dapat melatih keberanian peserta didik untuk mengemukakan pendapatnya, dan menimulkan perbedaan pendapat dalam kelas yang menjadikan diskusi lebih hidup. Disamping itu, teknik ini dapat membangkitkan kreativitas dan minat peserta didik agar lebih aktif dan bersungguh-sungguh mengikuti pelajaran. Pendidik dapat mendeteksi pemahaman peserta didiknya. Segi negatifnya adalah teknik ini membutuhkan banyak waktu, khususnya bila terjadi perbedaan yang sulit diselesaikan dan kemungkinan terjadi penyimpangan atas topik yang diberikan serta kurang tepat dalam mencari kesimpulan atau inti pelajaran.
Teknik ini berfungsi dengan baik jika pada tahap awalnya terdapat rumusan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Pertanyaan yang diajukan dapat membangkitkan minat dan mendorong siswa untuk aktif, sehingga terjadi kerja sama antara peserta didik dan mereka dapat mengasosiasikan pada masalah yang lain. Disamping itu, dalam teknik ini dapat dilakukan secara adil dalam membagi giliran bertanya. Bentuk pertanyaan yang dikemukan dapat berupa pemahaman, penerapan, ingatan, analisis, sistematis, evaluatif, dan sebagainya.
B.     Teknik diskusi
Teknik ini pendidik memberikan kesempatan pada peserta didiknya untuk mengadakan pembicaraan ilmiah, baik secara individu maupun kelompok untuk mengumpulkan penapat, membuat kesimpulan atau menyusun alternatif pemecahan suatu masalah. Masalah yang didiskusikan dapat berupa pemecahan sosial, pemecahan kasus kehidupan sehari-hari, serta pemecahan masalah pelajaran, khususnya koreksi pemahaman. Segi positif teknik ini adalah membantu peserta didik untuk mengambil keputusan yang lebih baik daripada memutuskan sendiri, tidak terjebak dengan pemikiran yang keliru, meningkatkan motivasi terhadap peningkatan berpikir keras serta adanya hubungan akrab.
C.     Teknik bantah-bantahan (Al-Mujadalah)
Sebenarnya teknik ini hampir sama dengan teknik diskusi,  hanya saja teknik ini di ikuti oleh peerta yang mungkin berbeda ideologi, agama, prinsip, filsafat hidup atau perbedaan lainnya. Tujuan diterapkan teknik ini untuk memengaruhi bahkan memaksa peserta agar mengikuti keinginannya, sehingga sifat teknik ini terkesan saling menjatuhkan dan mengalahkan lawan serta ingin mempertahankan perndapat pribadi. Teknik ini berdasarkan firman Allah: “serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik”. (QS. An-Nahl:125).
Menurut Al-Nahlawi, teknik jidal ini mempunyai kelebihan sebagai berikut:
a.       Mendidik peserta didik untuk bersemangat mencari kebenaran dan mengemukakan kebenaran dengan argumen yang kuat dan rasional, sehingga teknik ini mampu mengembangkan potensi.
b.      Menghindarkan peserta didik dari pemikiran yang ilhad atau ateis dan syirik serta menanamkan sifat kebencian terhadap kebatilan.
c.       Mendidik peserta didik menggunakan pikiran yang sehat yang dapat memperoleh hakikat kebenaran.
D.    Teknik Brainstorming (Sumbang Saran)
Teknik yang dilakukan dengan cara mengajar yang mana seorang pendidik melontarkan sejumlah pertanyaan dan masalah untuk kemudian peserta didik dituntut untuk menjawab dan menyataan pendapat atau berkomentar, sehingga memungkinkan masalah tersebut berkembang menjadi masalah baru. Disamping itu, dapat pula diartikan sebagai cara mendaapatkan ide dan gagasan dari sekelompok peserta dalam waktu yang singkat. Tujuan teknik ini adalah menguras habis pengetahuan yang diketahui peseta dalam menanggapi masalah yang diajukan.
            Teknik brainstorming mempunyai banyak keungguan. Yaitu peserta didik dapat berpikir aktif dan dapat menyatakn pendapatnya dengan cepat serta logis, adanya kebebasan berpendapat secara mutlak dan terciptanya suasana demokrasi. Selain itu, teknik ini dapat menyebabkan persaingan yang ketat yang merangsang peserta didik untuk selalu berpendapat, sehingga peserta didik yang lemah dapat pula terdorong untuk berpartisipasi dalam menanggapi masalah tersebut. Namun, kelemahan teknik ini adalah pendidik kurang memberi waktu untuk peserta didik berpikir sehingga kadang-kadang pembicaraan didominasi peserta didik yang pandai saja. Selain itu, pendidik yang menampung ide tidak dapat menyimpulkan masalah dan peserta didik segera mengetahui pendapat mereka benar atau salah. Teknik ini tidak menjami adanya penyelasaian masalah yang diajukan. Dalam brainstoming dalam pendidikan islam sangat tepat digunakan untuk pengajaran materi perbadningan mazhab, sehingga peserta didik terhindari dari fanatisme terhadap mazhab tetapi juga tidak membencinya.
3)      Teknik bercerita
Teknik yang dilakukan dengan bercerita, mengungkapkan peristiwa-peristiwa bersejarah yang mengandur ibrah bagi seluruh umat manusia disegala tempat dan zaman, baik mengenai kisah yang bersifat kebaikan yang berakibat pada baik maupun kisah kezaliman yang bersifat buruk dimasalalu. Teknik ini sangat efektif sekali, terutama untuk materi sejarah dan kebudayaan islam. Dan terlebih lagi sasarannya untuk peserta didik yang masih dalam perkembangan fantasi. Dengan mendengarkan suatu kisah, kepekaan jiwa dan perasaan peserta didik dapat tergugah, meniru figur yang baik yang berguna bagi perkembangan hidupnya, dan membenci terhadap tokoh antagonis atau zalim. Jadi, dengna memberikan stimulasi kepada peserta didik dengan cerita itu, secara otomatis mendorong peserta didik untuk berbuat kebajikan dan dapat membentuk akhlak mulia, serta dapat membina rohani.  Bentuk-bentuk teknik ini dapat berupa legenda dan dongeng seperti cerita kezaliman fir’aun, roman nocel cerita pendek, cerita bergambar, puisi dan lain-lain.


4)      Teknik Metafora (Al-Amtsal)
Al amtsal adalah perumpamaan baik berupa ungkapan, gerak, maupun melalui gambar-gambar. Dalam konteks pendidikan islam, teknik metafora lebih mengarah kepada perumpamaan dalam segi ungkapan belaka. Teknik metafora mempunyai kelebihan karena dapat memberi pemahaman konsep abstrak bagi peserta didik, serta dapat memberi kesan dan bekas yang mendalam terhadap perumpamaan yang diberikan membawa pemahaman rasional yang mudah dipahami, dan menumbuhkan daya motivasi untuk meningkatkan imajinasi yang baik dan meninggalkan imajinasi yang tercela. Teknik metafora dapat direalisasikan melalui bentuk-bentuk sebagai berikut:
A.    Simbolisme Verbal
Teknik yang dilakukan dengan cara meggunakan bahasa-bahasa simbol yang dapat menarik minat pendengar. Pada dasarnya, bahasa simbol memiliki nilai-nilai sejarah yang tinggi, karena diformat dalam bahasa seni, sehingga sejarah tersebut disuguhkan dalam bahasa yang sesederhana mungkin. Suatu kisah mempunyai arti metafora, yakni kisah cinta anak adam (Qabil dan Habil) yang sedang merebutkan pasangan hidupnya. Untuk penentuan pasangan itu, mereka berdua berkorban. Kurban Qabul dalam bentuk hasil pertanian ditolak dan kurban Habil dengan menyembelih hewan diterima. Qabil kecewa dengan pasangannya lalu ia membunuh adik kandungnnya. Ia bingung bagaimana cara menguburnya, lalu turunlah seekor burung gagak memberi metafora pada qabil bagaimana cara mengubur adiknya. (QA. Al-Maidah:27-32). Bentuk teknik simbolisme verbal dapat berupa puisi, prosa, pantun, syair, fabel, cerpen, karikatur, dan sebagainya.
Al-Qur’an sesungguhnya kitab suci yang kaya akan simbol-simbol dan perlu interpretasi. Hal ini karena isinya dapat dimengerti oleh semua lapisan manusia walaupun hasil pengertian dan pemahaman itu berbeda-beda. Semakin tinggi tingkat pengetahuan dan tajam penalaran dan perasaannya, semakin banyak pula ia memperoleh rahasia-rahasia yang terkandung dalam simbol-simbol tersebut. Bahasa Al-Qur’an, tidaklah sulit sebab kalau sulit maka orang awam tidak mampu memahaminya. Namun demikian, bahasa Al-Qur’an tidaklah mudah, sebab jika mudah akan membosankan bagi kaum intelektual dan cendekiawan. Karena itu, bahasa Al-Qur’an merupakan bahasa simbol.
B.     Teknik karyawisata (Al-Rihlah Al-Imiyah)
Teknik yang dilakukan dengan cara penyajian suatu bahan pelajaran dengan membawa peserta didik pada objek yang akan dipelajari secara diluar kelas. Sebagai contoh, jika pendidik menerangkan materi sejarah kebudayaan islam di inodnesia, sebaiknya peserta diidk diajak kemakam sunan ampel, sunan muria, dan tempat bersejarah lainnya. Dengan demikian peserta didik memiliki deskriptif secara langsung tentang materi pelajaran yang diberikan. Teknik karyawisata perna diterapkan Nabi Khidir kepada Nabi Musa. Dalam teknik ini, Nabi Khidir membawa Nabi Musa pada objek secara langsung, dan sambil lalu Nabi Khidir memberik pelajaran pada Nabi Musa mengenai pembunuhan anak kecil yang tak berdosa, melubangi perahu dan membangun rumah anak yatim disuatu daerah yang zalim (Al-Kahfi:62-82). Demikian pula halnya dengan Nabi Muhammad SAW. Yang pernah melakukan teknik karyawisata bersama Malaikat Jibril sewaktu Isra’ dan Mi’raj. Dalam perjalanannya beliau diperlihatkan surga dan neraka beserta penghuninya, bau makam mashithah, tukang sisir anak Fir’aun, orang yang memilih daging busuk daripada daging segar, orang yang memeilih air susu daripada minuman keras, dan orang yang mengtam padi yang tak kunjung habis panennya. Dengan objek spiritual itu, malaikat jiblil memberikan amakna-makna yang tersurat dan tersirat atas peristiwa yang dilihat oleh Rasulullah SAW.
5.      Teknik Imitasi
Teknik yang dilakukan dengan cara menampilkan seperangkat teladan bagi peserta didik melalui komunikasi transaksi didalam kelas maupun luar kelas. Teknik imitasi dilakukan karena ajaran islam tidak sekedar ditransformasikan pada peserta didik tapi juga diinternalisasikan dalam kehidupan nyata, sehingga tuntutan pendidik tidak hanya berceramah atau berdiskusi tetapi lebih penting lagi, mengamalkan semua ajaran yang telah dimengerti sehingga peserta didik dapat meniru dan mencontohnya. Seorang pendidik yang baik adalah dapat meneruskan misi kerasulan Nabi Muhammad SAW, melalui perilakunya yang penuh kesederhanaan, kreativitas, dan produktivitas. Rasulullah adalah teladan yang patut dicontoh karena peribadi Qur’aninya. Untuk merealisasikan teknik imitasi dapat digunakan bentuk-bentuk teknik sebagai berikut:
A.    Teknik Uswatun Hasanah
Teknik uswatun hasanah merupakan teknik yang diberikan dengan cara contoh teladan yang baik, yang tidak hanya memberi didalam kelas tetapi juga contoh dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu peserta didik tidak segan-segan meniru dan mencontohnya, seperti shalat berjamaah, kerjja sosial, partisipasi kegiatan masyarakat dan lain-lain.
B.     Teknik Demonstrasi dan Dramatisasi
Teknik yang digunakan dengan cara kegiatan-kegiatan eksperimen sehingga membentuk kerangka verbal yang dibarengi dengan kerja fisik atau pengoperasian peralatan, barang atau benda. Teknik ini biasanya dilakukan oleh pendidik itu sendiri, sedangkan teknik dramatisasi diperankan oleh peserta didik. Teknik mempunyai kelebihan khusus, yaitu adanya kreativitas peserta didik yang semakin meningkat, memperbanyak pengalaman disamping pengetahuan, pelajarannya bertahan lama karena selalu diminati, siswa cepat menangkap pengertian karena perhatiannya terfokus pada pelajaran, serta mengurangi kesalahpahaman.
C.     Teknik Permainan dan Simulasi
Teknik yang dilakukan dengan cara pengajaran dalam situasi yang sesungguhnya. Bagian-bagian penting diduplikasikan dalam bentuk permainan, sehingga peserta didik bertindak langsung memainkan peranannya. Tujuan teknik ini adalah melatih keterampilan yang bersifat profesional, memperoleh pemahaman tentang suatu konsep dan prinsip, melatih memecahkan masalah, memberi motivasi kerja, serta menimbulkan kesadaran diri, rasa simpati, perubahan sikap dan kepekaan.
6.      Teknik Mumarasah al-Amal
Teknik ini dilakukan dengan cara memberikan pekerjaan pada peserta didik secara terus menerus agar peserta didik terbiasa. Dengan tidak sadar, peserta didik terbiasa melakukan hal-hal baik serta memiliki kreativitas dan produktivitas yang profesional dan terampil dalam mengerjakan sesuatu. Bentuk-bentuk Dril dapat direalisasikan dalam teknik:
A.    Teknik Kerja kelompok
Teknik ini dilakukan dengan cara mengejar pada sekelompok peserta didik untuk bekerja sama dan memecahkan masalah dengan cara mengerjakan tugas yang diberikan padanya guna mencapai tujuan yang diinginkan. Kelebihan teknik ini adalah mampu memberi kesempatan peserta didik untuk menunjukkan keterampilan. Sedangkan kelemahannya adalah kurang adanya keseragaman kemampuan peserta didik, sehingga peserta didik yang mampu saja yang aktif.
B.     Teknik penemuan
Teknik ini dilakukan dengan cara mengajar peserta didik dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, membaca dan dapat belajar sendiri. Teknik ini dapat membangkitkan gairah siswa belajar karena termotivasi dan adanya percaya diri. Kelemahan teknik ini adalah tak semua peserta didik memiliki kesiapan mental, sehingga ia kurang berani bertindak.
C.     Teknik Micro Teaching
Teknik ini dilakukan dengan memberi kegiatan mengajar pada peserta didik, yang segalanya dikecilkan dan disederhanakan. Kegunannya yaitu mempersiapkan diri peserta didik sebagai calon guru untuk menghadapi pekerjaan mengajar sepenuhnnya dimuka kelas dengan memperoleh pengetahun, kecakapan dan sikap sebagai guru professional.
D.    Teknik Modul Belajar
Teknik modul belajar dilakukan melalui paket belajar yang disiapkan oleh pendidik berdasarkan kemampuan siswanya. Keuntungan teknik ini adalah ini adalah secara individual disenangi oleh siswa sebab tidak ada kata gagal yang ada belum mencapai tujuan. Namun teknik ini juga mempunyai kelemahan yaitu teknik ini dapat menyita banyak waktu, dan harus mengadakan modifikasi paket tiap tahun.
E.     Teknik Belajar Mandiri
Teknik yang dilakukan dengan menyuruh peserta didik belajar sendiri baik dikelas maupun diluar kelas. Keuntungan teknik ini adalah dapat diikuti dan dilakukan sesuai kemampuan peserta didik masing-masing. Sedang kelemahannya ialah hubungan sosial murid menjadi menyempit.
7.      Teknik Pengambil Pelajaran dari Suatu Peristiwa (Ibrah)
Aplikasi teknik ibrah dalam pendidik islam adalah dengan mengajar peserta didik melalui pengamatan, perbandingan dan penganalogian serta pengambilan keputusan. Hal ini akan menjadikan siswa mempunyai pengetahuan dan membentuk sikap kepribadian yang terampil dan professional. Untuk merealisasikan teknik ibrah ini dapat menggunakan teknik sebagai berikut:


A.    Eksperimen
Teknik yang menggunakan cara mengajar dengan memberi tugas melakukan percobaan tentang sesuatu mulai dari pengamatan, penulisan, sampai kesimpulan. Teknik ini efektif untuk menyelesaikan skripsi tesis ataupun disertasi bagi peserta didik.
B.     Teknik Penyakian Kerja Lapangan
Teknik yang dikerjakan dengan cara keterlibatan peserta didik kelapangan kerja di luar sekolah, sehingga peserta didik bukan hanya peninjauan saja tetapi jua ikut langsun turun kelapangan kerja.
C.     Teknik Penyajian Secara Kasus
Teknik ini dilakukan melalui penyajian suatu kasus yang dialmi peserta didik sendiri atau orang lain. Kasus yang terjadi pada siapa saja dapat dimanfaatkan untuk penyajian teknik ini untuk dipecahkan sehingga peserta didik akan terbiasa menghadapi problema yang ada.
D.    Teknik Penyajian Non-Directive
Teknik yang dilakukan dengan cara mengajar peserta didik melalui keterlibatan dan kebiasaannya dalam melakukan observasi, menganalisis data yang diperoleh serta membuat kesimpulan sendiri.
8.      Teknik Pemberi Janji dan Ancaman (Targhib Wa Tarhib)
Targhib adalah harapan dan janji yang diberikan kepada peserta didik dengan bersifat menyenangkan sebab hasilnya adalah sebuah penghargaan. Sebaliknya tarhib adalah ancaman pada peserta didik bila ia melakukan suatu tindakan yang menyalahi aturan. Ada beberapa teknik yang mampu merealisasikan teknik ini, yaitu:
A.    Teknik Pemberian Bimbingan dan Ampunan
Teknik ini dilakukan dengan cara membimbing anak yang telah melakukan kesalah dengan menjanjikan adanya ampunan. Teknik ini diperuntukan bagi siswa bermasalah. Selanjutnya pendidik memberi bimbingan agar siswa dapat memecahkn problemanya sendiri.
B.     Pemberian Motivasi dan Peringatan (Al-Tasywiq dan Al-Tadzkir)
Teknik ini dilakukan dengan memberi motivasi tinggi pada peserta didik sehingga ia merasa senang dan bangga melakukan perintah. Disamping itu, teknik ini memberikan gambaran tentang perbuatan jahat sehingga peserta didik mampu menghindarkan diri dari hal tersebut.
C.     Teknik Anugerah dan Hukuman (Tsawab dan Iqab)
Teknik yang dilakukan dengan memberi anugerah kepada siswa berprestasi dan hukuman bagi siswa pelanggar. Hukuman tersebut dapat diterapkan bilamana anak sudah beranjak usia 10 tahun, sehingga tidak membahayakan saraf otak peserta didik.
9.      Teknik Koreksi dan Kritik
Teknik ini dilakukan dengan cara pembahasan dan penyelididikan terhadap suatu topik materi dalam suatu buku, atau pendapat seorang guru, yang diberikan pada peserta didik atau kemudian dikritisi kelemahan-kelemahannya dan dapat dibandingkan dengan pendapat atau buku lain. Dengan demikian peserta didik dapat mengetahui pendapat yang masih relevan dan mengandung nilai kebenaran.
10.  Teknik perlombaan
Teknik yang dilakukan dengan cara memberi pelajaran kepada peserta didik melalui upaya yang bersifat kompeitisi antara peserta didik. Bentuk teknik ini dapat berupa olah pikir. Teknik ini efektif karena dapat menguras seluruh kemampuan peserta didik dalam waktu sesingkat mungkin dan peserta didik akan terbiasa merefleksiakn kemampuannya tanpa berfikir lama. Akan tetapi keleamahannya adalah menjadikan minder bagi peseta didik yang sama sekali tidak mempunyai kemampuan spesial dan perhatian didominasi oleh peserta didik tertentu.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
            Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa teknik dan metode merupakan suatu alat yang digunakan oleh guru untuk menyampaikan bahan-bahan pengajaran yang telah dipilih untuk peserta didik. Teknik dan metodeyang dipilih haruslah sesuai dengan pelajaran yang digunakan dan seirama dengan pendekatan yang digunakan. Sehingga dari beragamnya teknik dan metode yang ada pada pembelajaran pendidikan islam maka mampu membuat siswa menjadi lebih senang dan bersemangat dalam proses belajar. Serta pendidikpun harus mampu menguasai teknik dan metode tersebut sebagai caranya menyampaikan suatu pelajaran. Teknik dan metodepun digunakan sesuai pada kebutuhan pembelajaran masing-masing.



No comments:

Post a Comment