1.
Sebutkan
definisi BK sosial, masalah yang terjadi dalam masyarakat sosial, dan apa
tujuan mempelajari BK sosial tersebut? Dan bagaimanakah pandangan islam dalam
mengatur kehidupan manusia yang tinggal dalam masyarakat yang berbeda suku,
agama, bangsa dan negara?
A. Secara
umum bimbingan konseling sosial adalah bagian dari bimbingan dan konseling yang
diaplikasikan lebih khusus untuk masyarakat atau sosial. Beberapa ahli mengemukakan
definisi tentang bimbingan konseling sosial, antara lain:
·
Menurut Djumhur dan surya bimbingan konseling
sosial merupakan bimbingan yang bertujuan untuk membantu individu dalam
memecahkan dan mengatasi kesulitan-kesulitan dalam masalah sosial, sehingga
individu mampu menyesuaikan diri secara baik dan wajar dalam lingkungan
sosialnya.
·
Menurut Sukardi, bimbingan konseling sosial
membantu siswa mengenal dan berhubungan dengan lingkungan sosialnya yang
dilandasinya budi pekerti luhur, tanggung jawab kemasyarakatan dan kenegaraan.
·
Abu Ahmadi berpendapat bahwa bimbingan
konseling sosial adalah, seperangkat usaha bantuan kepada peserta didik agar
dapat mengahadapi sendiri masalah-masalah pribadi dan sosial yang dialaminya,
mengadakan penyesuaian pribadi dan sosial, memilih kelompok sosial, memilih
jenis-jenis kegiatan sosial dan kegiatan rekreatif yang bernilai guna, serta
berdaya upaya sendiri dalam memecahkan masalah-masalah pribadi, rekreasi dan
sosial yang dialaminya.
Dengan
berbagai pengertian atau definisi mengenai bimbingan dan konseling sosial, dan
mengacu pada pendapat Hill (1990) bahwasanya “kurang mungkin untuk memberikan
definisi eksak yang pasti atau eksak yang dapat diterima oleh semua ahli.” Maka
dapat di simpulkan bahwa bimbingan konseling sosial merupakan upaya proses
pemberian bantuan yang diberikan untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang sejahtera
baik untuk individu, keluarga dan masyarakat yang meliputi rasa keselamatan,
kesusilaan, keamanan, ketertiban dan katentraman baik lahir maupun batin, hal
ini akan terwujud melalui berbagai kerja sama dan tanggung jawab bersama antara
pemerintah dan masyarakat.
B. Masalah
yang terdapat dalam masyarakat sosial dibagi menjadi empat:
·
Faktor ekonomi, mencakup pengangguran,
kemiskinan, PHK, sulitnya mencari pekerjaan, sedikitnya lapangan pekerjaan,
kurang keterampilan pembuka lapangan kerja.
·
Faktor budaya, mencakup perceraian,
kenakalan remaja, pergaulan bebas, narkoba, miras, dunia malam.
·
Faktor biologis, mancakup keracunan,
penyakit menular.
·
Faktor psikologis, mencakup aliran
sesat, penyakit syaraf dan kepribadian ganda.
C. Tujuan
BK sosial
Banyaknya
masalah yang muncul pada masyarakat di era globalisasi menjadikan banyaknya
pula tujuan Bimbingan dan Konseling sosial. Berbagai masalah yang muncul
menjadikan sebagian orang tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.
Sehingga membutuhkan orang yang ahli untuk membantu dalam menyelesaikan
masalahnya sendiri. Berikut mengenai tujuan-tujuan Bimbingan dan Konseling
sosial:
·
Supaya individu atau kelompok mampu
menghadapi tugas perkembangan hidupnya secara sadar dan bebas serta mewujudkan
kesadaran dan kebebasan itu dalam membuat pilihan-pilihan secara bijaksana
serta mengambil beraneka tindakan penyesuaian diri secara memadai.
·
Untuk membantu individu mengembangkan
diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan predisposisi yang
dimilikinya seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya, berbagai latar belakang
seperti keluarga, pendidikan, status social ekonomi serta sesuai dengan
tuntutan positif lingkungannya.
D.
Pandangan
islam dalam mengatur kehidupan manusia yang tinggal dalam masyarakat yang
berbeda suku, agama, bangsa dan negara. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S
Al-Hujurat:13
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.
Dalam
ringkasan tafsir Ibnu Katsir 4 (Surah ash-Shaaffaat-an-Naas) karya Muhammad
Nasib Ar-Rifa’i atau judul aslinya ialah Taisiru al-Aliyyil Qodir li Ikhtishari
dijelaskan mengenai Q.S Al-Hujurat:13 bahwa Allah memberitahukan kepada umat
manusia bahwa Dia telah menciptakan mereka dari satu jiwa dan telah menjadikan
dari jiwa itu pasangannya. Dan Allah juga telah menciptakan mereka
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Maka kemuliaan manusia dipandang dari kaitan
ketanahannya dengan Adam dan Hawa a.s adalah sama. Hanya saja kemulian mereka
itu bertingkat-tingkat bila dilihat dari sudut keagaaman seperti ketaan kepada
Allah dan kepatuhan kepada Rasul-Nya. Karena itu Allah melarang manusia berbuat
ghibah dan menghina satu sama lain, dan Dia mengingatkan bahwa mereka itu sama
dalam segi kemanusiaanya.
Jadi,
dalam kehidupan bermasyarakat Allah tidak pernah membedakan hambanya dalam
berbagai segi duniawi, Allah juga memerintahkan manusia untuk saling menghargai
dengan tidak menghina dan mengghibah satu dengan yang lainnya agar terciptanya
tatanan masyarakat yang baik.
2. Manusia dilahirkan kedunia dalam
keadaan fitrah sebagai mahasiswa saudara tentu sudah sering mendengar kata
fitrah ini, jelaskan apa itu fitrah manusia, regulasi diri, Self-Efficacy, pengetahuan
diri dan bagaimana dengan orang yang tidak tahu diri. Jelaskan beserta dalil
al-Qur’an atau hadist terkait?
A. Dalam
pengertian yang sederhana istilah fitrah sering dimaknai suci dan potensi.
Secara etimologis, asal kata fitrah berasal dari bahasa Arab, yaitu fitrah (فطرة)
jamaknya fithar (فطر), yang suka diartikan perangai, tabiat, kejadian, asli,
agama, ciptaan. Beberapa ahli
berpendapat mengenai definisi fitrah:
·
Menurut hadits yang diriwayatkan oleh
Ibnu ‘Abbas, fitrah adalah awal mula penciptaan manusia. Sebab lafadz fitrah
tidak pernah dikemukakan oleh al-Quran dalam konteksnya selain dengan manusia
·
Kamus Indonesia-Inggris susunan John
Echols dan Hasan Sadili, mengartikan fitrah dengan natural, tendency,
disposition, character.
·
Para filosof aliran empirisme memandang
bahwa aktivitas fitrah sebagai tolok ukur pemaknaannya. Sedangkan para fuqaha
memandang haliah manusia merupakan cermin dari jiwanya, sehingga hukum
diterapkan menurut apa yang terlihat, bukan dari hakikat di balik perbuatan
tersebut.
·
Ibnu Abbas, Ka'ab bin Qurodi, Abu Sa'id
al-Khudriy, dan Ahmad bin Hanbal, mereka mengatakan bahwa manusia lahir dengan
ketetapannya, apakah ia nanti menjadi orang yang bahagia ataukah menjadi orang
yang sesat. Semua itu bergantung pada ketetapan yang diperoleh sejak manusia
lahir. Ketetapan manusia selanjutnya disebut dengan fitrah, yang tidak dapat
dipengaruhi oleh kondisi eksogen apa pun termasuk proses pendidikan. Apabila
ketetapan asalnya baik, proses kehidupannya akan selalu baik walaupun pada awal
perbuatannya sesat. Demikian juga sebaliknya, apabila ketetapan asalnya sesat,
ia akan menjadi orang yang sesat walaupun ia beraktivitas seperti orang baik.
“setiap anak yang lahir
dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara), maka kedua orang
tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani dan majusi.”
Berdasarkan
pendapat para ahli dan hadist tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa makna
fitrah dalam pandangan para mufasir itu bermacam-macam, pada intinya fitrah
merupakan potensi-potensi tertentu
yang ada pada diri manusia yang telah dibawanya semenjak lahir. Namun
yang dimaksud dengan fitrah dalam dunia bimbingan dan konseling adalah potensi
untuk menjadi baik dan sekaligus potensi untuk menjadi buruk, potensi mengenai
bakat yang sudah ada dalam dirinya serta potensi yang tercipta karena
lingkungannya. Potensi tersebut tidak diubah. Maksudnya, potensi untuk menjadi
baik ataupun menjadi buruk tersebut tidak akan diubah oleh Allah, fitrah
mengenai potensi tersebut dapat dikembangkan oleh individu tersebut atau
lingkungannya. Oleh karena itu, di sinilah betapa pentingnya mempertahankan
fitrah (potensi) dan sekaligus mengembangkannya bagi kehidupan manusia yang
lebih baik.
B. Regulasi
diri
Regulasi diri (self regulation)
didefinisikan oleh Kanfer, sebagai suatu proses yang memungkinkan seseorang
untuk memandu aktivitasnya dengan waktu yang lebih lama agar tercapai tujuan
yang diinginkannya dan memungkinkan juga untuk mengubah keadaannya menjadi
kebalikannya, termasuk dalam pengaturan atau pengaruh pikiran dan perilaku.
Menurut
Bandura regulasi diri adalah suatu kemampuan yang dimiliki manusia berupa
kemampuan berpikir dan dengan kemampuan itu mereka memanipulasi lingkungan, sehingga
terjadi perubahan lingkungan akibat kegiatan tersebut. Menurut Bandura
seseorang dapat mengatur sebahagian dari pola tingkah laku dirinya
sendiri. Secara umum self regulated adalah tugas seseorang untuk
mengubah respon-respon, seperti mengendalikan impuls perilaku (dorongan
perilaku), menahan hasrat, mengontrol pikiran dan mengubah emosi. Maka dengan
kata lain, regulasi diri adalah suatu kemampuan yang dimiliki oleh individu
dalam mengontrol tingkah laku, dan memanipulasi sebuah perilaku dengan menggunakan
kemampuan pikirannya sehingga individu dapat bereaksi terhadap lingkungannya.
C. Self-Efficacy
Tokoh
yang memperkenalkan istilah efikasi diri (self-efficacy) adalah
Bandura. Ia mendefenisikan bahwa efikasi dirii adalah keyakinan individu
mengenai kemampuan dirinya dalam melakukan tugas atau tindakan yang diperlukan
untuk mencapai hasil tertentu. Sedangkan, menurut John W. Santrock penulis buku
dengan judul educational psychology mengemukakan bahwa self Efficacy
adalah kepercayaan seseorang atas kemampuannya dalam menguasai situasi
dan menghasilkan sesuatu yang menguntungkan.
D. Pengetahuan
Diri
Pengetahuan
diri adalah bagaimana kita menjelaskan dan memprediksi diri kita sendiri.
Pengetahuan diri akan menjelaskan perilaku kita, memperkirakan perilaku kita serta
memperkirakan bagaimana perasaan kita. Ketika kita melakukan sesuatu, misalnya
mengapa kita memilih kuliah di universitas tertentu, mengapa kita marah-marah
kepada teman kita, mengapa kita jatuh cinta pada orang tertentu dan sebagainya.
Terkadang kita tahu terkadang kita bahkan tidak mengetahui apa alasan kita
melakukan hal tersebut. Menurut Shelley E. Taylor dkk, bahwasanya pengetahuan
diri berasal dari banyak sumber. Beberapa antaranya adalah bersifat spontan
atau dari kesadaran bahwa ada sesuat dalam diri tetapi tidak tahu datangnya
kesadaran ini. Tetapi, yang lebih umum adalah kita dapat mengindentifikasikan
asal-usul keyakinan tentang diri kita melalui pengalaman spesifik. Seperti,
dari sosialisasi, tanggapan orang lain melalui kritik atau saran, persepsi
diri, lingkungan, identitas sosial dan lain-lain.
“(Yaitu)
orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari
kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dan Dia
lebih mengetahui (tentang keadaan) mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan
ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan
dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.
(QS. An Najm: 32).
E. Orang
yang tidak tahu diri
Menurut
kamus besar bahasa Indonesia, orang yang tidak tahu diri adalah orang yang
tidak mampu memahami keadaannya. Sedangkan dalam dunia psikologi, seseorang
yang dianggap tidak tahu diri mengacu kepada ketidakmampuannya melakukan
regulasi diri atau mengontrol dan mengarahkan tindakannya sendiri. Aspek lain
yang mempengaruhi hal ini adalah tentang kecakapan diri dan kontrol personal
yang rendah sehingga ia tidak dapat memposisikan diri dengan baik bersama orang
lain atau untuk dirinya sendiri.
Dalam
perspektif islam tidak tahu diri merupakan perilaku tercela. Perilaku tercela
adalah perilaku yang yang dipandang tidak baik dan tidak sesuai dengan
syara’(tidak sesuai dengan ajaran islam), ayat al qur’an yang menerangkan
perilaku tercela diantaranya:
“Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga)
janganlah kamu mengkhianati amanat-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang
kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfaal:27)
Ayat
ini mengaitkan sikap tidak tahu diri atau sikap tercela dengan amanah dan
berkhianat. Bahwa diantara indikator seseorang yang tidak tahu diri adalah
ketika ia tidak mampu melaksanakan
amanah. Berbeda hal dengan orang yang mampu melakukan salah satu sikap itu
dengan terpuji.
3.
Jelaskan
tentang sikap atau perilaku, hubungan perilaku dengan prasangka, bagaimana
prasangka bisa terjadi pada pikiran manusia, apa melalui belajar, ada motifnya
yang berbasis kognitif atau bagaimana jelaskan beserta dalilnya?
A. Attitude
atau sikap adalah evaluasiterhadap objek, isu atau orang. Sikap didasarkan pada
informasi afektif, behavioral dan kognitif. Sedangkan menurut ahli Sri Utami sikap ataupun
attitude memiliki beberapa poin penting yang harus dijabarkan. Diantaranya
adalah :
·
sikap berorientasi pada respon, dimana
sikap merupakan bentuk dari sebuah perasaan yakni perasaan yang mendukung atau
memihak (favourable) maupun perasaan yang tidak mendukung pada sebuah objek.
·
Sikap berorientasi kepada kesiapan
respon seperti sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi pada suatu objek dengan
menggunakan cara tertentu. Namun bila dihadapkan pada suat stimulus yang
mungkin menginginkan adanya respon suatu pola perilaku, atapun kesiapan
antisipasi untuk bisa menyesuaikan diri dari situasi sosial yang sudah
dikondisikan.
·
Sikap adalah konstelasi atau bagian
komponen-komponen konitif, konatif ataupun afektif yan saling bersinggungan dan
juga berinteraksi untuk bisa saling merasakan, memahami serta memiliki perilaku
yang bijak pada suat objek di lingkungan. Hal ini mungkin yang dikatakan oleh
orang awam mencoba menempatkan diri di posisi orang lain baik dalam definis
baik ataupun buruk.
Mengenai
perilaku atau sikap seseorang Allah menjelaskannya dalam Q.S Al-Maidah:08
“Hai orang-orang yang
beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran)
karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu
terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku
adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Dalam
ayat ini Allah menyeru kepada umat Islam untuk selalu menegakkan kebenaran di
atas muka bumi, selain itu harus bersaksi dengan saksi kesaksian yang adil.
Kemudian dalam hal adil harus kepada seluruh umat manusia tanpa memandang latar
belakang sosial, agama, pendidikan, dan sebagainya. Berbuat adil merupakan
perilaku atau sikap yang seharusnya dimiliki oleh seseorang sebagai ajangakan
mendekatkan diri manusia kepada Allah, karena salah satu sifat Allah itu adalah
adil.
B. Hubungan
perilaku dengan prasangka
Prasangka
sangat berkaitan dengan perilaku karena merupakan salah satu aspek paling
destruktif dari perilaku manusia, dan sering menimbulkan tindakan kekerasan
yang mengerikan. Prasangka merupakan evaluasi negatif atas suatu kelompok atau
individu berdasarkan pada keanggotaan orang itu dalam suatu kelompok. Prasangka
adalah hal yang memulai terealisasinya perilaku karena di picu oleh motif
prasangka yang mendorong diri seseorang untuk memenuhi prasangka tersebut.
C. Bagaimana
prasangka bisa terjadi pada pikiran manusia
Begitu
banyak hal yang memengaruhi terjadinya prasangka pada pikiran manusia
diantaranya melalui proses belajar, yaitu seperti proses sosialisasi karena
anak-anak tidak dilahirkan dengan membawa stereotip dan prasangka. Mereka pasti
mempelajarinya dari keluarga, teman, media dan masyarakat disekitarnya. Seperti
proses sosialisasi yang merupakan proses yang dijalani anak dalam belajar norma
sosial konvensional di sekitar mereka. Prasangka dapat dipelajari di dalam atau
di luar rumah. Prasangka bisa dipelajari melalui mekanisme belajar sosial
standar. Misalnya, anak mungkin hanya menirtu prasangka orang dewasa dan
kawannya. Anak mungkin belajar mengasosiasikan kelompok minoritas tertentu
dengan kemiskinan, kejahatan, kepelitan, dan berbagai karakteristik negatif
lainnya.
Prasangka
rasial secara historis lebih kuat di kawasan selatan ketimbang utara. Misalnya,
dibandingkan orang kulit putih yang tinggal di utara, orang kulit yang tinggal
di selatan lebih cenderung menganggap perlu adanya undang-undang yang melarang
perkawinan kulit hitam dan kulit putih.
Prasangka
konvensional sering kali dipelajari sejak kecil. Pada usia 4 atau 5 tahun,
kebanyakan anak kulit putih diperkotaan di AS telah membedakan antara kulit
putih dan kulit hitam, menyadari norma-norma yang berlaku mengenai ras dan
meunjukkan sedikit tanda prasangka raasial pada usia 5 tahun. Pengalaman anak
pada masa ini sangat penting karena prasangka terhadap kelompok yang sangat
menonjol tidak akan banyak berubah di sepanjang kehidupan seseorang. Serta, prasangka
bisa tetap konstan sampai ke masa dewasa dalah dengan penguatan terus-menerus
yang datang dari orag yang berpikiran sama dalam kelommpok ikut mengawetkan
prasangka.
Media
juga salah satu cara mempelajari prasangka. Gillen (1999) berpendapat bahwa
media ikut bertanggung jawab atas semakin meningkatnya padangan negatif
terhadap kesejahteraan. Liputan televisi juga menguatkan stereotip yang
menghubungkan minoritas rasial dengan kejahatan. Kejahatan banyak diberikatan
di telebisi. Liputan kejahatan ini memperburuk stereotip rasial. Terkadang,
media tak memberikan citra stereotip, dengan kata lain bahkan media menyajikan
informasi yang akan menghilangkan stereotip yang salah, prasangka audien
mungkin menghalangi penerimaan info tersebut.
D. Motif
Prasangka
Motif
adalah dorongan yang menggerakan seseorang bertingkah laku karena adanya
kebutuhan yang ingin dipenuhi. Dengan demikian, motif prasangka maknanya ialah
dorongan dalam diri individu yang membuat individu mengadopsi sikap prasangka
tersebut.
·
Pendekatan psikodinamis menganalisis
prasangka sebagai suatu yang muncul dari dinamika personalitas
individu,biasanya dinamika dari gangguan personalitas. Yang paling terkenal
adalah personalitas otoriter, yang menunjukkan sikap tunduk berlebihan kepada
otoritas, lebel kepatuhan ekstrem pada standar konvensional perilaku, dan
bersikap sangat keras terhadap penyimpangan dan memusuhi anggota kelompok lain
secara berlebihan.
Teori
psikodinamik lainnya menganggap prasangka sebagai displaced aggression atau
agresi yang dialihkan. Orang-orang yang marah atau frustasi biasanya
mengekspresikan aresinya kepada pihak yang membuat mereka marah. Tetapi, jika
sumber kemarahan itu tidak dapat diserang karena kekhawatiran akan terjadi
pembalasan yang lebih hebat atau karena sumber itu tidak jelas dan sulit
didekati maka agresi akan dialihkan kepada target lainnya.
·
Ide motivasional kedua menyatakan bahwa
prasangka berasal dari persaingan antar kelompok. Kelompok dominan termotivasi
untuk menjaga posisi dominannya dan kelompok bawahan termotivasi mereduksi
kesenjangan ini. Persaingan ini yang menimbulkan konflik antar kelompok dan
karenanya melahirkan prasangka. Ada beberapa versi mengenai teori ini.
a) Realistic
group conflict theory atau teori konflik kelompok yang realistis, menyatakan
bawha prasangka adalah konsekuensi tak terelakkan dari persaingan di antara
kelompok dalam memperebutkan sumber daya dan kekuasaan.
b) Sebse
of group position atau pemahaman tentang posisi kelompok. Kelompok yang
beruntung aktif bekerja menjaga status privilese mereka dalam menghadapi
serangan dari kelompok bawahannya.
c) Social
dominance theory atau teori dominasi sosial juga mengasumsikan bahwa setiap
kelompok cenderung diorgnisasikan secara hierarkis, dimana kelompok teratas dan
kelopok terbawah.
4.
Penelitian
yang dilakukan para ahli di dunia mengatakan bahwa pengaruh teman sebaya lebih
besar daripada pengaruh orang tuanya, jelaskan tentang pengaruh pergaulan baik
interpersonal dan bagaimana islam mengatur dalam memilih pasangan?
A. Teman
sebaya
John
W. Santrok dalam bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia yaitu
Psikologi Pendidikan mengatakan bahwa selain keluarga dan guru, teman seusia
atau sebaya juga memainkan peran penting dalam perkembangan anak. Teman sebaya
sangat berpengaruh di bandingkan orang tua karena teman sebaya memiliki usia
yang sama atau pada level kedewasaan yang sama. Dalam sebuah studi, hubungan
dengan teman sebaya yang buruk di masa kanak-kanak menyebabkan terjadinya
drop-out dari sekolah dan tindakan kejahatan di usia remaja. Dalam sebuah
studi, hubungan harmois teman sebaya di usia remaja menyebabkan kesehatan
mental yang positif di usia paruh baya nanti. (Higtower, 1990)
B. Pengaruh
pergaulan baik interpersonal
Hubungan interpersonal adalah ikatan kuat diantara
dua atau lebih orang dimana ketika kita berkomunikasi, kita
bukan sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan
interpersonalnya. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya
menentukan isi melainkan juga menentukan relationship.
Dari
segi psikologi komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan
interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya; makin cermat
persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya, sehingga makin efektif
komunikasi yang berlangsung diantara komunikan.
Pengaruh
pergaulan baik
C. Bagaimana
islam mengatur dalam memilih pasangan
Islam
adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk juga dalam
urusan memilih teman bermain dan teman hidup. Dalam memilih teman seharusnya
kita memilih teman yang sholeh karena teman merupakan cerminan diri kita.
Seperti sabda Rasulallah:
“Seseorang itu tergantung pada
agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya
memperhatikan siapa yang dia jadikan teman”
Sudah
dapat dipastikan, bahwa seorang teman memiliki pengaruh yang sangat besar
terhadap temannya. Teman bisa mempengaruhi agama, pandangan hidup, kebiasaan
dan sifat-sifat seseorang.
Syaikh
‘Abdul Muhsin Al-Qâsim [4] berkata, “Sifat
manusia adalah cepat terpengaruh dengan teman pergaulannya. Manusia saja bisa
terpengaruh bahkan dengan seekor binatang ternak.”
Dalam
mencari pasangan hidup, paling tidak ada sedikitnya empat kriteria. Hal ini
sebagaimana hadits Rasulullah Saw, yang artinya:
“Perempuan dinikahi karena empat
faktor. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka
nikahilah wanita yang baik agamanya,engkau akan beruntung.” (HR
Bukhari).
Dalam
hadits tersebut. Secara jelas disebutkan bagaimana kriteria seseorang yang akan
dijadikan pendamping hidup yang baik. Walaupun dalam hadits tersebut Rasulullah
Saw menyebutkan dengan mendahulukan harta, nasab, dan kecantikan namun
Rasulullah Saw dalam akhir hadistnya mengatakan bahwa sebaiknya mengutamakan
mereka yang baik agamanya. Hal ini menandakan bahwa sebenarnya agama
merupakan kriteria paling utama dalam memilih calon pendamping hidup.
5.
Jelaskan
tentang ciri kelompok, perilaku dalam kelompok, gender, bagaimana pandangan
islam tentang kesetaraan gender.
A. Ciri
Kelompok
Mulanya
manusia berkelompok dimulai dari zaman manusia purba, dari sejak
pithecanthropus hingga homo sapiens dari wajak. Manusia merupakan makhluk
sosial yang membutuhkan interaksi.
Menurut
Mills, kelompok adalah satu unit yang terdiri dari dua orang atau lebih yang
bekerja sama atau melakukan kontak untuk mencapai tujuan dan yang
mempertimbangkan kerja sama di antara kelompok sebagai satu yang berarti. Dalam
buku konseling kelompok karya Namora Lumongga Lubis dan Hasnida ada beberapa
ciri kelompok dikatakan sebagai kelompok. Berikut merupakan cirinya:
·
Terdapat dorongan atau motif yang sama
antara individu satu dengan yang lainnya.
·
Terdapat sebab akibat interaksi yang
beralinan terhadap individu satu dengan yang lain berdasarkan rasa dan
kecakapan yang berbeda antara individu yang terlibat di dalamnya.
·
Adanya penegasan dan pembentukan
struktur atau organisasi kelompok yang jelas dan terdiri dari peranan-peranna
dan kedudukan masing-masing.
·
Adanya peneguhan norma pedoman tingkah
laku anggota kelompok dalam mengatur interaksi dalam kegiatan anggota kelompok
untuk mencapai tujuan yang ada.
·
Berlangsungnya suatu kepentingan.
·
Adanya pergerakan dinamik.
B. Perilaku
dalam kelompok
Perilaku
dalam kelompok adalah keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran
(kognisi), dan predisposisi tindakan yang terjadi dalam kelompok. Perilaku
dalam kelompok, meliputi:
·
Fasilitasi sosial (social facilitation)
adalah peningkatan intensitas perilaku oieh kehadiran orang lain. Fasilitasi
sosial berbeda dengan perilaku menular (contagious behaviour) yang merupakan
perilaku meniru (imitasi) dan menyangkut transformasi informasi dengan hasil
jangka panjang adalah belajar sosial (social learning). Perilaku menular adalah
dorongan dan dalam (imitasi) sedangkan dalam fasilitasi sosial adalah dorongan
dan luar.
·
Pemalasan sosial (social loafing) yaitu
individu, sebagai anggota kelompok yang bekerja kurang keras jika bersama-sama
dengan kelompoknya, dibandingkan dengan jika dia bekerja seorang diri.
·
Deindividuasi sosial sebagai bentuk
perilaku dalam kelompok yang lain, adalah hilangnya kewaspadaan diri dan
penangkapan evaluasi, terjadi dalam situasi kelompok yang mendukung respons
terhadap norma kelompok, baik atau buruk. Hal ini dapat terjadi ketika tingkat
keterbangkitan sosial tinggi dikombinasikan dengan kebingungan tanggung jawab,
dimana orang dapat menelantarkan pengendalian dirinya yang biasa dan kehilangan
perasaan individualitasnya.
·
Keadaan hilangnya kesadaran akan diri
sendiri (self awareness) dan pengertian evaluatif terhadap diri sendiri
(evaluation apprehension) dalam situasi kelompok yang memungkinkan anonimitas
dan mengalihkan atau menjauhkan perhatian dari individu.
C. Gender
Gender
adalah dimensi sosiokultural dan psikologis dari pria dan wanita. Istilah
gender dibedakan dari istilah jenis kelamin (seks). Seks berhubungan dengan
dimensi biologis pria dan wanita. Pandangan terhadap perkembangan gender di
antaranya menitikberatkan pada faktor-faktor dalam perilaku pria dan wanita,
sedangkan yang lainnya menekankan pada faktor sosial dan kognitif.
Dalam
studi observasional yang dilakukan sebuah mall menemukan bahwa 90% bayi
mengenakan baju bertipe gender dalam warna atau gaya.
D. Bagaimana
pandangan islam tentang kesetaraan gender
“Hai
sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari
diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada
keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan
bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling
meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya
Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
pada
ayat pertama surat an-Nisa’ kita dapatkan, bahwa Allah telah menyamakan
kedudukan laki-laki dan perempuan sebagai hamba dan makhluk Allah, yang masing-
masing jika beramal sholeh, pasti akan di beri pahala sesuai dengan amalnya.
Kedua-duanya tercipta dari jiwa yang satu (nafsun wahidah), yang
mengisyaratkan bahwa tidak ada perbedaan antara keduanya. Semuanya di bawah
pengawasan Allah serta mempunyai kewajiban untuk bertaqwa kepada-Nya (ittaqu
robbakum).
Kesetaraan
yang telah di akui oleh Al Qur’an tersebut, bukan berarti harus sama antara
laki- laki dan perempuan dalam segala hal.Untuk menjaga kesimbangan alam
(sunnatu tadafu’), harus ada sesuatu yang berbeda, yang masing-masing mempunyai
fungsi dan tugas tersendiri. Tanpa itu, dunia, bahkan alam ini akan berhenti
dan hancur. Oleh karenanya, sebgai hikmah dari Allah untuk menciptakan
dua pasang manusia yang berbeda, bukan hanya pada bentuk dan postur tubuh serta
jenis kelaminnya saja, akan tetapi juga pada emosional dan komposisi
kimia dalam tubuh.
6. Sebagai calon konselor atau guru bk
akan menghadapi berbagai macam masalah dalam masyarakat, jelaskan tanggung
jawab guru BK terhadap kesehatan dan hukum dan bagaimana cara kerja guru BK
kesehatan dan hukum.
A. Keadaan
kesehatan seseorang adalah hasil dari interaksi yang kompleks antara faktor
biologis, seperti predisposisi genetik dan penyakit tertentu: faktor
psikologis, seperti stres, dan faktor sosial seperti jumlah dukungan sosial
yang diterima. Kesehatan tidak hanya ditunjukkan dari segi fisik, tetapi juga
berkenaan dengan masalah masalah psikologis. Berikut contohnya:
Ellen
belakangan ini menemui dokternya untuk memeriksakan sakit kepalanya. Tetapi pak
dokter orangnya dingin dan angkuh dan tampaknya menanggap sakit kepala itu soal
sepele. Dia tidak mau mengikuti saran pak dokter, tetapi dia memilih kursus
relaksasi.
Peran
konselor dalam kesehatan diarahkan ke empat area utama:
·
Meningkatkan dan menjaga kesehatan
psikis siswa
·
Mengidentifikasi penyebab kesehatan dan
gangguan mental atau psikis
·
Mencegah terjadinya gangguan kesehatan
terutama kesehatan psikis atau mental siswa
Salah
satu teknik yang bisa digunakan adalah teknik mengubah sikap yaitu
diaplikasikan untuk memahami perilaku sehat. Apakah orang mau menjalani
perilaku sehat akan tergantung pada kesehatan umum, anggapan terhadap ancaman
penyakit, anggapan tentang tingkat bahaya penyakit, anggapan tentang
efektivitas praktik kesehatan tertentu dan perasaan mampu untuk menjalani
praktik hidup sehat. Tetapi, secara keseluruhan.
B. Sistem
hukum menyediakan kesempatan unik tentang dunia psikologi untuk menguji teori
dasar dalam situasi “dunia riil”. Studi sistem hukum membantu melihat bagaimana
prilaku terjadi dalam onteks yang dipenuhi unsur emosional yang kompleks.
Tentunya seorang guru BK sudah semestinya mengerti perihal hukum, karena hal
ini berkaitan dengan tugas yang diembannya. Seperti ketika seorang siswa yang
mengalami pemerkosan, seorang guru BK bisa membantu menegakkan keadilannya.
Serta, guru BK harus berhubungan dengan dunia hukum karena terdapat alih tangan
kasus ketika permasalahan yang dialami peserta didik sudah bukan ranahnya lagi.
No comments:
Post a Comment