Pages

Wednesday, November 13, 2019

Proses dan Tahapan Konseling Keluarga


BAB I
PENDAHULUAN
A.        Latar Belakang
Proses konseling merupakan proses yang bersifat sistematis yang dilakukan oleh konselor dan konseli untuk memecahkan masalah. Keluarga merupakan salah satu tempat hadirnya problema disamping tempat yang menciptakan berbagai macam kebahagiaan dan ketenangan. Konseling keluarga memandang bahwa keluarga adalah satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan dari segi permasalahannya serta cara penyelesaiannya.
Konseling keluarga membantu anggota keluarga belajar dan memahami bahwa dinamika keluarga merupakan hasil pengaruh hubungan anggota keluarga. Berbagai problema keluarga yang memicu akan persepsi, harapan dan interaksi dalam keluarga . sehingga mencapai suasana yang menyenangkan dalam ruang lingkup keluarga tersebut.

B.         Rumusan Masalah
1.      Definisi Konseling Keluarga
2.      Proses  dan Tahapan Konseling Keluarga

C.         Tujuan
Mengetahui dan memahami definisi Konseling Keluarga dan Proses serta Tahapan dalam Bimbingan dan Konseling Keluarga.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konseling Keluarga
Secara etimologis, istilah konseling berasal dari bahasa Latin, yaitu “consilium” yang berarti “dengan” atau “bersama” yang dirangkai dengan “menerima” atau memahami” sedangkan dalam bahasa Anglo-Saxon, istilah konseling berasal dari “sellan” yang berarti “menyerahkan” atau “menyampaikan”. Secara sederhana Maclean mengemukakan bahwa konseling adalah suatu proses yang terjadi dalam hubungan tatap muka antara seorang individu yang terganggu oleh karena masalah-masalahyang tidak diatasi dengan seorang pekerja yang profesional, yaitu orang yang telah terlatih dan berpengalaman membantu orang lain mencapai pemecahan-pemecahan terhadap berbagai jenis kesulitan pribadi.[1]
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan, atau pengangkatan di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.[2]
Sedangkan, konseling keluarga adalah Proses komunikasi antara konselor dengan konseli (Keluarga : remaja dan orang tua remaja) dalam hubungan yang membantu, sehingga keluarga dan atau masing-masing anggota keluarga mampu membuat keputusan, merubah perilaku secara positif dan mengembangkan suasana kehidupan keluarga sehingga keluarga berfungsi secara keseluruhan, meningkatkan ketahanan keluarga serta mengembangkan potensi masing-masing anggota keluarga sebagai pribadi maupun sebagai anggota keluarga.[3]

Berdasarkan kenyataan ada lima jenis relasi atau hubungan dalam konseling keluarga, yakni:
B.     Relasi seorang konseli dengan konseli lainnya
C.     Relasi konseli dengan konselor
D.    Relasi konselor dengan sebagian kelompok anggota keluarga
E.     Relasi konselor dengan keseluruhan anggota keluarga
F.      Relasi antar sebagian kelompok dengan sebagian kelompok lain
Konselor keluarga diharapkan mempunyai kemampuan profesional untuk mengantisipasi perilaku keseluruhan anggota keluarga yang terdiri dari berbagai kualitas emosional dan kepribadiannya. Konselor yang profesional mempunyai karakteristik yaitu:
1.      Ilmu konseling dan ilmu lain
2.      Keterampilan konseling
3.      Kepribadian konselor yang terbuka, menerima dan ceria


Dengan kemampuan-kemampuan ini, diharapkan konselor dapat melakukan tugasnya dalam beberapa hal, yaitu:
1.      Mampu mengembangkan komunikasi antara anggota keluarga yang tadinya terhambat oleh emosi-emosi tertenu
2.      Mampu membantu mengembangkan penghargaan anggota keluarga terhadap potensi anggota lain sesuai dengan realitas yang ada pada diri dan lingkungannya
3.      Dalam hubungan konseling, konseli berhasil menemukan dan memahami potensi, keunggulan, kelebihan yang ada pada dirinya dan mempunyai wawasan dan alternatif rencana untuk pengembangannya atas bantuan semua anggota keluarga
4.      Mampu membantu konseli agar dapat menurunkan tingkat hambatan emosional dan kecemasan serta menemukan, memahami dan memecahkan masalah dan kelemahan yang dialaminya dengan bantuan anggota lainnya.
Untuk melaksanakan keempat tugas konselor keluarga seperti yang dikemukakan tadi, penting sekali adanya proses konseling yang berjalan secara bertahap. Dalam proses konseling itu, komunikasi konselor dan konseli atau anggota keluarga, dan komunikasi antara anggota keluarga, adalah wahana yang amat penting yang diwarnai oleh suasana afektif dan interaksi yang mengandung kualitas emosional, akan tetapi lama-kelamaan berubah menjadi perilaku sosial.[4] Secara umum proses konseling berjalan menurut tahapan berikut:
A.    Pengembangan rapport
Rapport adalah suatu hubungan atau relationship yang ditandai dengan keharmonisan, kesesuaian, kecocokan, dan saling tarik menarik. Rapport dimulai dengan persetujuan, kesejajaran, kesukaan, dan persamaan. Jika sudah terjadi persetujuan dan persamaan, timbullah kesukaan terhadap satu sama lain.[5] Serta, Upaya pengembangan raport seyogyanya dimulai ketika konseli memasuki ruang konseling. Hal ini dapat dilakukan jika konselor memiliki kemampuan untuk mengembangkannya. Upaya itu ditentukan oleh aspek-aspek diri konselor:
1.      Kontak mata
2.      Perilaku non verbal (attending, bersahabat atau akrab, hangat, luwes, keramahan, senyum, menerima, jujur atau asili, penuh perhatian dan terbuka.
3.      Bahasa lisan atau verbal (sapaan sesuai dengan teknik konseling), seperti ramah menyapa, senyum dan bahasa lisan yang halus.
Tujuan menciptakan suasana rapport dalam hubungan konseling adalah agar suasana konseling itu merupakan suasana yang memberikan keberanian dan kepercayaan diri konseli untuk menyampaikan isi hati, perasaan, kesulitan dan bahkan rahasia batinnya kepada konselor. Akan tetapi menciptakn rapport di dalam hubungan konselornya tidaklah begitu mudah karena sering mengalami berbagai kendala. Kendala-kendala itu diungkapkan oleh Perez sebagai berikut:
1.      Konselor kurang mampu menstabilkan emosinya sehubungan dengan latar belakang kehidupannya yang banyak masalah. Sebagai manusia, sering konselor terpengaruh suasana sosial psikologis dan emosional disekelilingnya, misalnya suasana keluarga, iklim tempat kerja dan jabatan yang dipegangnya terutama jika konselor itu seorang guru. Guru mengharuskan dirinya senang mengatur bahkan mendikte siswa. Ciri atau sikap seperti itu menyulitkan dalam menciptakan raport jika konselor tidak dapat menguasai emosi egonya, dan jika selalu dalam ketidakstabilan emosi, maka konselor seperti itu tidak akan efektif, bahkan mungkin dapat lebih merusak konseli.
2.      Konselor yang terikat dengan sistem nilai yang dianutnya secara sadar atau tidak sadar mampu mempengaruhi sistem nilai konseli. Jika sistem nilai konselor dan konseli memang sama, misalnya sesama penganut agama islam, memberikan peluang sangat baik bagi konselor memberi bantuan sesuai ajaran agama. Akan tetapi jika konselor dan konseli jelas-jelas bedasistem nila, maka kurang pantas konselor memaksakan nilai-nilai tertentu pada konseli.
3.      Konselor dihantui oleh kelemahan teori dan teknik konseling yang ia miliki. Sebaliknya ada lagi konselor yang fanatik satu aliran konseling dan menganggap aliran lain jelek. Konselor pemula memang sering dihantui hal tersebut karena sesuai dalam setiap fase konseling atau dalam memberikan respon yang akurat sesuai dengan pernyataan konseli. Masalah ini dapat teratasi jika calon konselor sering mengadakan latihan wawancara konseling, bak bersama teman maupun dengan konseli yang sebenarnya. Disamping itu, konselor seharusnya menggunakan CSA (Creative-Synthesis-Analysis) dan elektisistik (selektif terhadap teori-teori sesuai keluarga atau konseli yang dihadapi).
Kesulitan lain berada pada pihak eksternal atau pihak konseli, yaitu:
1.      Jika ada anggota keluarga tidak mempunyai untuk mengikuti konseling, mereka akan menghambat jalannya konseling. Seberapapun konselor menguasai teori atau teknik, karena mereka enggan untuk melibatkan diri dalam pembicaraan
2.      Ada konseli yang enggan disebabkan dipaksa oleh orang lain atau tanpa suka rela. Biasanya konseli akan berpura-pura, defensif, dan ada pulu yang menutup diri samaa sekali terhadap konselor, sehingga sulit bagi konselor untuk mengungkap perasaan konseli
3.      Konseli yang sudah berpengalaman mengikuti berbagai konseling dari konselor, sehingga seakan-akan dia kecanduan untuk mengobrol bukan untuk meminta bantuan dalam pemecahan masalah yang dihadapinya.
B.     Pengembangan Apreasiasi Emosional
Anggota keluarga yang sedang mengikuti konseling keluarga, jika semua terlibat, akan terjadi interaksi yang dinamik diantara mereka, serta keinginan untuk memecahkan masalah mereka. Pada saat ini masing-masing anggota keluarga yang tadinya dalam keadaan terganggu komunikasi atau bahkan dalam keadaan “sakit”, mulai terlihat berinteraksi diantara mereka dan dengan konselor. Mereka mulai mampu menghargai perasaan masing-masing, dan dengan keinginan agar masalah yang mereka hadapi dapat mereka selesaikan dihadapan konselor. Hal yang menggembirakan itu adalah karena kemampuan teknik, penguasaan ilmu, serta kepribadian yang handal dari konselor.
Ada dua teknik konseling keluarga yang efektif yaitu sculpting dan role playing. Kedua teknik ini memberikan peluang bagi pernyataan-pernyataan emosi tertekan, dan penghargaan terhadap luapan emosi anggota keluarga. Dengan demikian, segala kecemasan dan ketegangan psikis dapat mereda, sehingga memudahkan untuk treatment konselor dan rencana anggota keluarga.



C.     Pengembangan alternatif modus perilaku
            Pada pengembangan alternatif ini, salah satu alternatifnya yaitu seorang konselor bisa memberi suatu daftar perilaku baru yang akan diperaktekan konseli selama satu minggu, kemudian melaporkannya pada sesi konseling selanjutnya. Sehingga perilaku baru konseli tersebut lama-kelamaan bisa terbentuk dan melekat pada dirinya atau disebut juga dengan home assignment atau pekerjaan rumah.
            Serta, proses konseling dapat terhambat kelancaranya karena faktor tata ruang. Ruang konseling yang kecil, sumpek dan tidak menarik akan mengurangi lancarnya interpersonal-setting dan suasana keintiman di antara anggota keluarga. Dengan bunga, peralatan yang menarik, cat dinding yang serasi dan peralatan suara, rekaman suara dan video.
            Meja konseling sebaiknya di meja tamu yang santai, dan tidak seperti meja dokter. Kedekatan (nearness) antara konselor dengan konseli lebih kurang 75 cm. Pengguan rekaman suara juga bisa menghambat jalannya konseling, karena konselor merekam tanpa izin konseli sehingga timbul keraguan kalau-kalau rahasianya terbuka. Juga ketidakpercayaan konseli terhadap konselor, hal mana amat penting dalam proses konseling,
            Jadi sekiranya konselor akan merekam dengan tape-recorfer dan video jalannya wawncara konseling itu, harus meminta izin terlebih dahulu kepada konseli dan konseli bisa mendengarkan kembali responnya,kemungkinan ada yang sesuai dan ada yang kurang sesuai dengan tujuan konseling, kemudian konselor dan konseli bisa mendiskuisikan hal tersebut. Serta, hal yang mungkin bisa menghambat proses konseling adalah jika konselor mencatat sambil mewawancara. Konselor kurang perhatiannya dengan duduk yang tidak menghadapkan muka dan memainkan benda-benda seperti pensil diketokan dimeja kaki bergoyang-goyang, duduk kurang sopan, dan lain-lain.
            Proses konseling lainnya adalah jika klien seseorang anak yang menghadapi masalah dikeluarga yang dibawa kesekolah dengan perilaku salah suai. Jadi bukan keluarganya yang dikonseling akan tetapi anak itu sendiri. Hal ini juga bisa terjadi karena keluarga itu enggan datang kelar konseling. Merasa malu urusan keluarga diurus konselor, atau merasa harga diri jatuh karena satu keluarga diselesaikan oleh orang lain. Proses konseling ini berjalan seperti konseling individual, akan tetapi konselor berusaha memberi ketahanan kepada klien agar dengan perilaku barunya itu ia bisa memberikan dampak positif bagi interaksi didalam keluarga.
D.    Fase Membina Hubungan Konseling
            fase ini amat penting didalam proses konseling, dan keberhasilan tujuan konseling secara efektifditentukan oleh keberhasilan konselor dalam membina hubungan konseling itu. Fase ini harus terjadi ditahap awal dan ditahap berikutnya dari si konseling yang ditandai dengan adanya rapport sebagai kunci lancarnya hubungan konseling. Disamping itu, sikap konselor amat penting selain teknik konseling.
            Sikap-sikap yang penting dari konselor adalah:
1.      acceptance, yaitu menerima konseli secara ikhlas tanpa mempertimbangkan jenis kelamin, derajat, kekayaan, dan perbedaan agama. Disamping itu klien diterima dengan segala masalahnya, kesulitan, dan keluhan serta sikap-sikapnya baik yang positif maupun negatif.
2.      unconditional positive regart, artinya menghargai klien tanpa syarat; mengejek atau mengeritik.
3.      understanding, yaitu konselor dapat memahami keadaan klien sebagaimana keadaannya.
4.      genuine, yaitu bahwa konselor itu asli dan jujur dengan dirinya sendiri, wajar dalam perbuatan dan ucapan.
5.      empati, artinya dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Emphati (pemahaman), menunjukkan sikap menghargai dan memahami apa yang difikirkan dan dirasakan oleh Konseli. Mencoba menempatkan diri melalui suatu kesadaran dan pemahaman tentang sesuatu yang terjadi pada diri klien, serta sebagai orang yang siap untuk mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh Konseli.
Secara berurutan, proses hubungan konseling dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.      Klien memasuki ruang konseling, konselor mempersiapkan klien supaya siap dibidang dibantu. Berarti hubungan konseling telah dimulai.
2.      Tahap klarifikasi, klien menyatakan alasan kedatangannya mengungkap pengalaman klien tentang konseling sebelumnya, mengungkap harapan-harapan klien dalam wawancara konseling yang akan dilaksanakan, menyatakan makna konseling.
3.      Tahap struktur, konselor mengadakan kontrak dengan klien tentang lamanya waktu yang akan digunakan, tentang biaya konseling, tentang boleh tidaknya direkam.
4.      Tahap meningkatkan relasi atau hubungan konseling, pada tahap ini konselor membangun hubungan konseling untuk memudahkan bagi pemberian bantuan kepada klien.

E.     memperlancar tindakan positif
Fase ini terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut:
1.      Eksplorasi, mengeksplorasi dan menelusuri masalah, menetapkan tujuan konseling, menetapkan rencana strategis, mengumpulkan fakta, mengungkapkan perasaan-perasaan klien yang lebih dalam, mengajarkan keterampilan baru konsolidasi, menjelajah alternatif-alternatif, perasaan-perasaan, melatih skill yang baru.
2.      Perencanaan, mengembangkan perencanaan bagi klien sesuai dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah, mengurangi perasaan-perasaan yang menyedihkan/menyakitkan, terus mengkonsolidasi skill baru atau perilaku baru untuk mencapai aktivitas diri klien.
3.      Penutup, mengevaluasi hasil konseling, menutup hubungan konseling.[6]
Secara garis besar, tahapan konseling dapat dibagi atas tiga bagian yaitu:
1.      Tahap awal konseling,
2.      Tahap pelaksanaan konseling yaitu dimulainya penjelajahan terhadap masalah klien,
3.      Tahap perencanaan dan penutupan.

Biasanya kesulitan terjadi pada tahap awal konseling, terutama bagi konselor pemula. Disamping itu penggunaan respon yang tepat, sesuai dengan isi pernyataan klien juga merupakan masalah yang merepotkan konselor pemula. Karena itu usaha ke arah pemantapan keterampilan konseling merupakan hal yang perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh.[7]


BAB III
PENUTUPAN
A. Kesimpulan
konseling keluarga adalah Proses komunikasi antara konselor dengan konseli yang berkaitan dengan permasalahan orang tua dan anak, suami isteri dan anggota keluarga lainnya. Secara umum proses konseling berjalan menurut tahapan berikut:
1.      Pengembangan rapport, suatu hubungan atau relationship yang ditandai dengan keharmonisan, kesesuaian, kecocokan, dan saling tarik menarik.
2.      Pengembangan Apreasiasi Emosional, saling menghargai dalam proses konseling sehingga proses tersebut berjalan dengan baik.
3.      Pengembangan alternatif modus perilaku, contoh sederhananya seperti seorang yang memodifikasi perilaku barunya dirumah sehingga perilaku barunya yang baik melekat dalam dirinya
4.      Fase membina hubungan, fase ini amat penting didalam proses konseling, dan keberhasilan tujuan konseling secara efektifditentukan oleh keberhasilan konselor dalam membina hubungan konseling itu. Fase ini harus terjadi ditahap awal dan ditahap berikutnya dari si konseling yang ditandai dengan adanya rapport sebagai kunci lancarnya hubungan konseling.



[1] Prayitno,Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling,(Jakarta:PT Rineka Cipta,2013)
[2] http://id.m.wikipedia.org/wiki/keluarga
[3] Yustiana, Yusi Riska, Modul Pedoman Dan Materi Konseling Keluarga Penanggulangan Nafza, (Bandung : Jurusan Ppb Fip Upi,2000)

[4] S.Willis, Sofyan, Konseling Keluarga (Family Counseling), (Bandung:Alfabeta,2009)
[5] S.Willis, Sofyan,Konseling Individu, (Bandung:Alfabeta,2014)

[6] S.Willis, Sofyan,Konseling Keluarga, Op Cit.

[7] S.Willis, Sofyan,Konseling Keluarga, Op Cit.

No comments:

Post a Comment