Pages

Wednesday, November 13, 2019

KIAT MENJADI PRIBADI YANG UNGGUL (CERAMAH AA GYM DAN TEORI KONSELING PSIKOLOGI)



Allah Ajja wa Jalla adalah Dzat yg Ma ha Sempurna segala-gala-Nya Maha luas tak terbatas pengetahuan-Nya. Sangat pasti hanyaAllah-lah Dzat yg Maha Memiliki segala keagungan Kemuliaan dan Keunggulan. Sungguh beruntung bagi siapapun yg dikaruniai oleh-Nya potensi dan bakat utk unggul. Lebih beruntung lagi bagi siapapun yg di karuniai kemampuan utk mengoptimalkan potensi dan bakat sehingga menjadi manusia unggul dan prestatif. Namun betapa banyak pula orang yg cukup potensial tetapi tak menjadi unggul. Betapa banyak orang yg memiliki bakat terpendam dan tetap “terpendam” tak tergali krn tak tahu ilmu untuk mengoptimalkannya.Padahal tiap orang pada dasar memiliki potensi utk unggul termasuk kita. Berikut ini beberapa kiat menjadi pribadi unggul dan prestatif.

1.      PERCEPATAN DIRI
Bagi orang yg ingin memacu percepatan diri maka waktu adalah kuncinya. Sebab sesungguhnya waktu adalah hidup kita. Orang bodoh adalah orang yg diberi modal hidup berupa waktu kemudian ia sia-siakan.
Ada tiga kelompok orang yg menggunakan waktu yaitu :
a.       Orang sukses yaitu orang yg menggunakan waktu dgn optimal salah satu ciri adalah ia melakukan sesuatu hal yg tak di minati oleh orang gagal.
b.      Orang malang yaitu orang yg hari-hari diisi dgn kekecewaan dan selalu memulai sesuatu pada keesokan harinya.
c.       Orang hebat yaitu orang yg bersedia melakukan sesuatu sekarang juga. Bagi orang hebat tak ada hari esok dia berkata bahwa membuang waktu bukan saja kejahatan tetapi suatu pembunuhan yg kejam.Karena mengetahui dan menyadari akan penting waktu berarti memahami pula nilai hidup dan kehidupan ini.
Oleh karena itu yg pertama dan utama yg harus dilakukan untuk menjadi pribadi unggul adalah pantang menyia-nyiakan waktu. Kita tak boleh melakukan sesuatu dgn sia-sia sebab semua yg dilakukan sangat pasti memakan waktu sedangkan waktu itu sangat berharga. Tidak mungkin kita melakukan yg sia-sia bukankah perbuatan mubadzir itu adalah perbuatan syetan.
.Allah SWT berfirman : “sesungguh pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syetan dan syetan itu sangat ingkar pada Tuhan-Nya” [1]
Berikut adalah trik dalam melakukan percepatan diri
  1. Adanya kesadaran untuk melakukan percepatan
Kesadaran ini kan hadir tatkalaa kita memiliki pengetahuan yang cukup tentang arti penting perubahan. Tanpa adanya kesadaran mustahil seseorang akan bergerak. Kesadaran dan ketidaksadaran ini bagaikan orang bangun dan orang tidur.
  1. Memiliki visi dan misi.
Visi adalah mencari gambaran masa depan, sedangkan misi adalah sesuatu yang harus dilaksanakan dan diselsaikan untuk menuju arah masa depan sesuai dengan visi yang telah ditetapkan, dengan adanya visi dan misi, jalan hidup kita akan lebih terarah.
  1. pandai melakukan skala prioritas dalam hidup
Skala prioritas sangat penting artinya karena sumber daya yang kita miliki-waktu. Kesempatan, dana, kekuatan fisik-serba terbatas. Menurut Dri Quraish Shihab, apabila ada dua lernatif untuk melakukan satu diantara dua pekerjaan yang sama dan memiliki arti yang sama pula, maka harus dipilih pekerjaan yang memakan waktu paling singkat. Di sisi lain apabila ada pekerjaan yang mengandung nilai tambah dan daapt diselsaikan dalamwaktu yang sama dan tanpa nilai tambah, maka pilihlah pekrjaan yang memiliki nilai tambah. Missal, shalt berjamaah yang lebih diutamakan daripda shalat sendirian, termasuk dalam hal ganjarannya yang perbandinggannya dalah 27:1
  1. Menerapkan konsep efisiensi (penghematan).
Seorang mulsim hendaknya berbuat seperti seorang pelari marathon yang harus berlari dalam jarak jauh. Secara seefisien ia kan mungkin mengelola setiap sumber daya yang dimilikinya dan menjauhkan diri dari kemubaziran. Orang yang efisien adalah orang yang memiliki pandangan jauh ke depan (Qs. Al-hasyr (59) an nahl (16) : 10-11).
  1. Belajar dan bertumbuh secara terus menerus sepanjang hidup.
Belajar di sini bukan hanya sekedar semangat belajar, yang tak kalah penting adalah belajar bagaimana cara belajar yang efektif. Karena itu, sangat penting kita harus menguasai cara belajar efektif, teknik membaca cepat, teknik memanfaatkan kemajuan teknologi dan lainnya.
  1. Memiliki sumber motivasi yang tak pernah padam.
Sumber motivasi itu harus berasal dari allah. Analoginya, motivasi dari allah bagaikan cahaya materhari yang selalu bersinar, sedangkan motivasi yang berasal dari manusia bagaikan lampu dinding yang mudah padam. Dalam Qs al-baqarah ayat 148 allah Swt berfirman dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, allah pasti akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kimat).[2]

2.      SISTEM YANG KONDUSIF
Sistem yang kita masuki itu akan sangat mempengaruhi percepatan diri kita salah dalam memilih sistem, memilih lingkungan maka akibatnyapun akan segera kita rasakan. Maka barang siapa ingin memiliki percepatan diri yg baik utk menjadi unggul maka harus bisa mencari sistem dan lingkungan atau teman-teman yg berkualitas. Sistem yg memiliki keunggulan dari standar biasa lingkungan yg memuliakan perilaku yg terjaga teman yg memiliki kehalusan budi pekerti yg tinggi. Apa bila kita memasuki dalam sistem seperti ini maka imbas pada diri kita jua. Percepatan kita akan terkontrol untuk menjadi unggul dan bermutu. Lembaga atau organisasi yg memiliki sistem yg unggul banyak yg telah membuktikan diri tampil dalam kehidupan bermasyarakat lebih maju dan lebih bermutu. Maka kalau ingin memiliki pribadi yg unggul tangguh dan prestatif pastikan untuk tak salah dalam memilih pergaulan. Sebab salah dalam memilih pergaulan lingkungan salah dalam memilih sistem berarti telah salah dalam memilih kesuksesan. Ingatlah pepatah
“Bergaul dgn tukang minyak wangi akan kebawa wangi bergaul dgn pandai besi akan kebawa bau bakaran”.[3]
Dalam teori belajar konstruktivisme individual (teori konstruktivisme Piaget), yang menekankan bahwa pengetahuan kita itu adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri dan teori belajar konstruktivisme sosial(teori konstruktivisme Vygotsky), yang menekankan perlunya interaksi sosial, juga menurut Von Glasersferld mengatakan bahwa pengetahuan itu dibentuk oleh struktur konsepsi seseorang sewaktu dia berinteraksi dengan lingkungannya (Kusmoro,2008:26). Oleh karena itu, pada bab ini kita akan membahas topik-topik yang berkenaan dengan lingkungan fisik kelas dan lingkungan psiko-sosial kelas, yang dapat memperlancar kegiatan pembelajaran.[4]

3.      BERDAYA SAING POSITIF
Griffin-Pierson1 (1990) mendefinisikan daya saing sebagai keinginan untuk me-nang dalam situasi interpersonal, sedang-kan Ryckman, dkk (Houston, McIntire, Kinnie, & Terry, 2002) mengemukakan bahwa daya saing adalah sikap menghar-gai kenikmatan dan proses dari tugas di luar kemenangan. Sementara, Brehn dan Kassin (Bernadin & Russell, 1998) menge-mukakan bahwa daya saing dibangun dari satu set keahlian dan kompentensi. Kompetensi direpresentasikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kemam-puan individu yang ditampilkan secara aktif.
Persaingan menurut dan Kassin (1990) adalah suatu aktivitas atau usaha untuk melawan orang lain untuk kepentingan yang lebih besar dengan mengesampingkan orang lain. Baron dan Byrne (1991) mengemukakan bahwa persaingan adalah usaha keras dari setiap orang untuk memaksimalkan pen-dapatan sendiri, yang tak jarang mengor-bankan pendapat orang lain.[5]

Dalam tiap kesempatan dan lingkungan kita harus memiliki naluri berdaya saing positif. Kalau tak pasti kita akan berat menghadapi hidup ini. Majalah “Panji” pernah memberitakan bahwa beberapa tahun lagi Universitas-Universitas luar negeri seperti Oxford Harvard UCLA Stanford dan Universitas ternama lainnya akan masuk ke Indonesia. Kenyataan ini akan membuat miris beberapa perguruan tinggi. Sikap ini nampak dipicu oleh kenyataan ada kesenjangan kualitas Perguruan Tinggi dalam negeri dan Perguruan Tinggi luar negeri. Bagi Perguruan Tinggi yg tak memiliki mental berdaya saing positif akan membuat mereka panik kalang kabut karena takut kesaingan. Melihat kenyataan yang sama atau lebih dari maka akan dianggap sebuah ancaman yang seolah-olah akan menghancurkanya. Namun bagi yg memiliki mental bersaing yg positif hal itu justru akan di tanggapi dengan senang hati seolah-olah dia mendapatkan sparing partner yg akan memacu lebih berkualitas lagi. Sebab mereka yg tak diberi pesaing kadang-kadang tak membuat mereka maju. Pepatah mengatakan bahwa “lebih baik menjadi juara dua di antara juara umum dari pada jadi juara satu dari yg lemah atau juara utama dari yg bodoh”. Karena yg terpenting bukan jadi juara tapi bagai mana cara kita memompa kemampuan optimal dalam menjalani kehidupan. Lebih baik juara dua di antara juara dari pada juara umum di antara yg kalah. Sahabat-sahabat sekalian kita janganlah sebel jika melihat orang lain lebih baik dari kita karena orang-orang yg suka iri hati sebel dongkol kepada prestasi orang lain biasa tak akan unggul. Berani bersaing secara sehat dan positif adalah kunci menuju gerbang kesuksesan.[6]
Dalam dunia pendidikan, konseling dan psikologi menjabarkan ciri-ciri dari siswa yang telah menjadi self regulated learners adalah: (1) dapat meningkatkan kemampuan belajar dengan menggunakan strategi belajar metakognitif yang tepat, berupa mencatat materi pelajaran dengan bahasa sendiri, mengorganisasikan catatan materi pelajaran, memper-luas pengetahuan, dan mengejar kembali ketertinggalan materi yang mungkin dialami, (2) proaktif memilih, mengatur, bahkan menciptakan lingkungan belajar yang menguntungkan dengan merencana-kan dan mengontrol waktu serta usaha untuk mengerjakan tugas, tahu bagaimana menciptakan dan mengatur lingkungan belajar yang menyenangkan, (3) dapat memainkan peran yang signifikan dalam memilih bentuk dan banyaknya pelajaran yang mereka butuhkan, (4) siswa mengerti bagaimana merencanakan, mengontrol, dan mengatur proses mental dalam rang-ka mencapai tujuan pribadi, (5) siswa memiliki keyakinan motivasi dan emosi adaptif, seperti efikasi diri akademik yang tinggi, penggunaan tujuan belajar, me-ngembangkan emosi positif terhadap tugas, dan (6) siswa mampu mengguna-kan strategi, menghindari gangguan eks-ternal dan internal dalam rangka untuk menjaga konsentrasi, usaha, dan motivasi-nya ketika melaksanakan tugas akademik (Zimmerman, 2002; Montalvo & Torres, 2004).[7]

4.      MAMPU BERSINERGI
Menurut Deardorff dan Williams (2006), sinergi adalah sebuah proses di mana interaksi dari dua orang atau lebih akan menghasilkan pengaruh gabungan yang lebih besar dibandingkan jumlah dari pengaruh mereka secara individual.
Sinergi dapat melipatgandakan pengaruh (multiplier effect) yang memungkinkan energi pekerjaan atau jasa individu berlipat ganda secara eksponensial melalui usaha bersama.
Sinergi adalah sikap saling mengisi dan melengkapi perbedaan untuk mencapai hasil lebih besar daripada jumlah bagian per bagian. Bersinergi berarti saling menghargai perbedaan ide dan bersedia saling berbagi. Bersinergi tidak mementingkan diri sendiri, namun berpikir menang-menang dan tidak ada pihak yang dirugikan atau merasa dirugikan. Bersinergi bertujuan memadukan bagianbagian terpisah.
Kunci untuk menciptakan sinergi adalah belajar menghargai bahkan mensyukuri perbedaan latar belakang SARA, adat istiadat, kepribadian maupun pengalaman dan pendidikan. Sebab perbedaan-perbedaan itulah yang menghantar hasil kerja tim menjadi lebih baik dan optimal. Itulah sinergi, sebuah bentuk aktivitas yang lebih luas daripada kerja sama
atau kebersamaan atau sama-sama bekerja.[8]
Steven R. Covey mencantumkan sinergi sebagai salah satu dari tujuh kebiasaan yg efektif. Dalam bersinergi atau berjamaah akan tercermin perbedaan nilai tiap individu yg kalau kita mampu mengelola akan melahirkan team work yang solid di mana nilai hasil akan jauh lebih besar lebih dahsyat atau lebih unggul dibandingkan kalau dilakukan sendiri-sendiri. Makin besar kekuatan sinergi dalam tiap kali berinteraksi dengan yg lain maka akan semakin besar pula kemampuan yg dihasilkan itulah di antara kunci menjadi unggul. Jadi kalau ingin menjadi unggul nikmati hidup berjamaah karena seorang yang pintar jika bertemu orang yg pintar akan bertambah pintar. Untuk itu berjamaahlah tapi berjamaah yg positif krn berjamaah itu ada kala saling melemahkan dan saling melumpuhkan. Maka lakukanlah branchmarking ke institusi lain sebagai perbandingan dan ini sangat penting. Hal ini agar pemikiran kita terus berkembang tak mandek atau di situ-situ terus. Oleh krn itu jangan pernah meremehkan orang lain tiap bertemu orang harus jadi sarana perubahan dan penambahan wawasan kita. Jangan merasa pintar sendiri merasa yg terbaik yg terbagus maka sebenar kita telah menjadi yg terbloon.[9]

5.      MANAJEMEN KALBU
Tidak bisa tak bagi pribadi yg ingin unggul dan prestatif maka dia harus mampu mengendalikan suasana hati krn orang itu tergantung suasana hatinya. Kalau hati merasa gembira maka dia gembira. Kalau hati sedang sedih maka sedih pula diri kalau hati lagi dongkol ngambek maka seperti itulah dirinya. Semua tergantung pada suasana hati maka bagi orang yg tak mampu mengendalikan/mengelola hati akan merasa repot dalam menghadapi hidup ini. Rosululloh SAW bersabda “ingatlah dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik maka akan baiklah seluruh tubuh tetapi bila rusak niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama hati”{HR. Bukhari – Muslim}.[10]
Hal ini berkaitan dengan penyakit hati, yang menurut Ibnu Taimiyah adalah suatu bentuk kerusakan yang menimpa hati, yang berakibat dengan tidak mampunya hati untuk melihat kebenaran. Akibatnya, orang yang terjangkit penyakit hati akan membenci kebenaran yang bermanfaat dan menyukai kebatilan yang membawa kepada kemudharatan. Oleh karena itu, kata maradh (sakit) kadang-kadang diintepretasikan dengan syakh atau raib (keraguan). Hal ini seperti penafsiran Mujahid dan Qotadah tentang ayat al- Baqarah ayat 2 : “Dalam hati mereka ada penyakit”. Penyakit dalam ayat ini dipahami sebagai keraguan.[11] Penyakit hati menurut Ibnu Taimiyah adalah penyakit yang ada di dalam hati, seperti kemarahan, keraguan dan kebodohan dan kezaliman.[12] Orang yang ragu dan bimbang tentang sesuatu akan merasakan sakit hatinya sampai dia mendapatkan kejelasan dan keyakinan. Akan tetapi, fokus kajian Ibnu Taimiyah tentang penyakit hati adalah hasud atau iri ataupun dengki.

Dengki menurutnya, dengan mengambil beberapa pendapat adalah rasa sakit yang disebabkan karena kecemburuan terhadap orangorang yang berharta dan juga sikap berangan-angan atau berharap hilangnya nikmat dari orang lain, meskipun dengan hilangnya nikmat itu ia tidak memperolehnya. Dengki juga dimaknai sebagai sikap berkeinginan untuk mendapatkan hal yang sama dengan diiringi rasa senang apabila yang dinginkan itu hilang dari orang lain. Secara ringkas, dapat disimpulkan bahwa iri adalah suatu bentuk kebencian dan rasa tidak senang terhadap kenikmatan yang ada pada orang lain.[13]

IMPLEMENTASI KONSEP PENGOBATAN PENYAKIT HATI MENURUT IBNU TAIMIYAH DALAM BIMBINGAN KONSELING ISLAM
Secara khusus, implementasi konsep Ibnu Taimiyah tentang pengobatan penyakit hati dalam bimbingan konseling Islam dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama: sesuai dengan pengertian bimbingan konseling Islam yang dikemukakan oleh Ainur Rahim Faqih, BKI adalah proses pemberian bantuan kepada individu agar mampu hidup selaras dengan ketentuan Allah sehingga mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Dalam proses mencapai kebahagiaan inilah tanpa disertai dengan hati yang sehat, seseorang tidak akan berhasil. Oleh sebab itu, hati yang terbebas dari nafsu negatif akan selalu mendapat bimbingan dari Tuhan yang akhirnya mampu memaknai hidup. Kedua: sesuai dengan konsep dasar dari BKI yang
menempatkan agama sebagai kebutuhan yang fitri, maka konsep pengobatan penyakit hati menurut Ibnu Taimiyah juga tidak menggunakan dasar konseptual selain agama itu sendiri yang bersendikan dari tekstualitas al-Qur’an dan Hadist. Ketiga, sesuai dengan landasan BKI yang menempatkan al-Qur’an dan Sunnah sebagai otoritas puncak yang berposisi sebagai dalil naqliah yang dipadukan dengan dalil aqliyah yang terdiri dari filsafat dan ilmu. Hal ini selaras dengan rancangan konseptual pengobatan penyakit hati menurut Ibnu Taimiyah yang memang menjadikan al-Qur’an dan Hadits sebagai kajian pokok.

Dari sinilah, konsep pengobatan penyakit hati menurut Ibnu Taimiyah sangat padu untuk diimplementasikan dalam BK karena memiliki visi dan orientasi yang sama dalam rangka pengembangan kepribadian secara Qur’ani.[14]
Kekurangan Pengobatan Penyakit Hati Menurut Ibnu Taimiyah dalam Perspektif Bimbingan Konseling Islam
Kekurangan pengobatan penyakit hati menurut Ibnu Taimiyah terletak pada berhentinya wacana tersebut pada dataran teoritis dan belum menyentuh pada wilayah aplikatif seperti misalnya mengenal kondisi masyarakat yang hendak dijadikan objek bimbingan. Dia lebih terfokus pada kajian konseptual yang didasarkan pada normativitas teks sehingga memunculkan konsep-konsep yang variatif, tetapi konsep tersebut berhadapan dengan realitas masyarakat yang berbeda belum tersentuh olehnya. Padahal, setiap lingkungan masyarakat memiliki struktur, nilai-nilai, potensi, kendala dan dinamika masing-masing. Dalam melaksanakan bimbingan penyuluhan, kondisi tersebut perlu benar-benar dikenali agar jelas hal-hal positif yang perlu ditingkatkan dan hal-hal negatif yang perlu dikurangi dan dihambat supaya tidak berkembang. Ada beberapa aspek yang layak untuk dipertimbangkan sebelum suatu gagasan tersebut didialogkan dengan realitas. Aspek-aspek tersebut meliputi nilai-nilai yang dianut, kebutuhan utama, hal-hal yang peka dan kondisi aktual dari suatu masyarakat.[15]




[1] Aa gym
[2] Bambangkharisma94.blogspot.com
[3] Aa gym
[4] Unik Ambar Wati, Pelaksanaan pembelajaran yang kondusif dan efektif.
[5]  JURNAL PSIKOLOGI VOLUME 41, NO. 1, JUNI 2014: 89 – 100
 Peningkatan Daya Saing Siswa Menengah Kejuruan  Swasta melalui Pelatihan Regulasi Diri  Hastaning Sakti1, Jati Ariati2  Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro hal. 89-90
[6] Aa gym
[7] JURNAL PSIKOLOGI VOLUME 41, NO. 1, JUNI 2014: 89 – 100
 Peningkatan Daya Saing Siswa Menengah Kejuruan  Swasta melalui Pelatihan Regulasi Diri  Hastaning Sakti1, Jati Ariati2  Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro hal. 93
[8] Majalah Badak LNG, Edisi 32, Agustus - September 2017 Sinergi  safety, health and environment , innovative , professionalism, integrity & dignity, Majalah Badak LNG Edisi 32, Agustus - September 2017 Bersinergi demi keberhasilan bersama.
[9] Aa gym
[10] Aa gym
[11] Ibnu Taimiyah, Mengenali Gerak-Gerik Kalbu(Bandung: Pustaka Hidayah,2001), hal. 149.
[12] Sebagai perbandingan, Penyakit hati menurut HAMKA, terdiri dari: marah, ujub, membanggakan diri sendiri, mengolok-olok orang lain, dendam,dan mangkir dari janji. Menurut Amin Syukur, penyakit hati terdiri dari: marah, egois, dengki, sombong, kikir, boros, mudah berkeinginan, buruk sangka dan berbohong, sedangkan menurut Mujtaba Musawi, penyakit hati terdiri dari: pemberang, pesimis, dusta, munafik, ghibah, mencari-cari kesalahan orang lain, dengki, sombong, zalim, marah, melanggar janji, khianat, kikir, dan serakah.
[13] Ibnu Taimiyah, Terapi Penyakit Hati (Jakarta: Gema Insani, 1998), hal. 13.
[14] JURNAL DAKWAH DAN KOMUNIKASI Jurusan Dakwah STAIN Purwokerto Vol.3 No.2 Juli-Desember 2009 pp.195-221TERAPI PENYAKIT HATI MENURUT IBN TAIMIYAH DALAM PERSPEKTIF BIMBINGAN KONSELING ISLAM Kholil Lur Rochman *)  Vol.3 No.2 Juli-Desember 2009 pp.195-221 (ISSN: 1978-1261)
[15] Hanna Djumhanna Bastama, Integrasi Psikologi dengan Islam, hal. 210-212.

No comments:

Post a Comment